Wuri Syaputri
Lifestyle | 2026-07-25 06:58:27
Oleh: Dr. Wuri Syaputri, M.Pd.
Dosen FIB Universitas Andalas
Ilustrasi dibuat oleh AI
Ada perubahan menarik dalam kebiasaan membaca masyarakat digital. Dulu, perhatian pembaca terpusat pada isi berita atau unggahan. Kini, banyak orang justru langsung menggulir layar ke kolom komentar. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap komentar lebih menarik daripada isi beritanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa proses memahami informasi tidak lagi berlangsung satu arah. Pembaca tidak hanya menerima apa yang ditulis penulis, tetapi juga melihat bagaimana orang lain menanggapi informasi tersebut. Komentar menjadi ruang untuk mencari klarifikasi, membandingkan pendapat, bahkan memastikan apakah sebuah informasi layak dipercaya.
Dalam kajian sosiolinguistik, makna bahasa selalu dibentuk melalui interaksi sosial. Sebagaimana dijelaskan Johnstone (2018), sebuah teks tidak berdiri sendiri, tetapi dipahami melalui konteks tempat teks itu digunakan. Di media sosial, konteks tersebut salah satunya hadir melalui kolom komentar.
Karena itu, komentar kini memiliki fungsi yang lebih luas. Ia bukan sekadar ruang untuk menyampaikan opini, tetapi juga tempat berbagi pengalaman, meluruskan informasi, hingga membangun humor yang sering kali justru lebih diingat daripada isi unggahan itu sendiri.
Namun, perubahan ini juga membawa tantangan. Tidak semua komentar didasarkan pada fakta. Komentar yang paling banyak disukai belum tentu yang paling benar. Emosi, candaan, atau opini yang viral sering kali lebih mudah menarik perhatian dibandingkan informasi yang telah diverifikasi.
Fairclough (1992) menjelaskan bahwa makna dibentuk melalui praktik sosial. Dalam konteks media digital, kolom komentar telah menjadi arena tempat berbagai tafsir saling bertemu dan memengaruhi cara masyarakat memahami suatu isu.
Karena itu, membaca komentar bukanlah sesuatu yang keliru. Yang perlu diingat, komentar sebaiknya menjadi pelengkap, bukan pengganti informasi utama. Pembaca tetap perlu menilai sumber informasi secara kritis sebelum membentuk kesimpulan.
Pada akhirnya, perubahan ini memperlihatkan bahwa bahasa terus mengikuti perkembangan teknologi. Jika dahulu percakapan terjadi setelah berita selesai dibaca, kini percakapan justru menjadi bagian dari proses membaca itu sendiri. Mungkin itulah sebabnya banyak orang berkata, "Lihat komentarnya dulu." Sebab di era digital, makna sebuah berita sering kali tidak hanya dibangun oleh penulis, tetapi juga oleh para pembacanya.
Daftar Pustaka
Fairclough, N. (1992). Discourse and social change. Polity Press.
Johnstone, B. (2018). Discourse analysis (3rd ed.). Wiley Blackwell.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

10 hours ago
13






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543643/original/041077600_1775031375-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_14.33.02__1_.jpeg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510193/original/003574000_1771822191-pexels-shameel-mukkath-3421394-5817525.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559034/original/060735700_1776504757-pexels-loquellano-16123121.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536549/original/029350900_1774329970-pexels-elletakesphotos-5764077.jpg)