REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Krisis listrik yang kian parah di Jalur Gaza membuat rumah-rumah sakit beroperasi dalam kondisi darurat di tengah serangan militer Israel yang masih terus berlangsung. Pemadaman listrik berkepanjangan menyebabkan layanan kesehatan terganggu, operasi medis tertunda, hingga mengancam keselamatan pasien yang bergantung pada peralatan penunjang kehidupan.
Salah satu korban terdampak adalah Omar Abu Atwa (30 tahun), warga Gaza tengah yang mengalami luka akibat ledakan saat berjalan pulang dari tempat kerja pada bulan lalu. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir el-Balah untuk mendapatkan perawatan.
Namun, saat menunggu pemeriksaan rontgen, aliran listrik mendadak padam. Akibatnya, mesin rontgen dan sebagian besar peralatan medis tidak dapat digunakan. Setelah menunggu sekitar enam jam tanpa kepastian, Omar akhirnya pulang tanpa memperoleh pemeriksaan maupun penanganan yang memadai.
"Saya menunggu berjam-jam di dalam rumah sakit dengan harapan listrik kembali menyala dan alat-alat medis mulai berfungsi lagi. Selama waktu itu, saya kesakitan dan cemas karena saya tidak tahu jenis cedera saya atau apakah kondisi saya memerlukan intervensi medis segera," ujar Omar seperti dikutip Al Jazeera, Sabtu (11/7/2026).
Dia mengatakan, kondisi serupa dialami banyak pasien lain, termasuk anak-anak, lansia, dan korban luka akibat serangan. Mereka terpaksa menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan pemeriksaan dasar karena fasilitas rumah sakit tidak dapat berfungsi secara normal.
Kerusakan sektor kesehatan di Gaza terus memburuk sejak dimulainya serangan Israel pada 7 Oktober 2023. Pemboman telah menghancurkan atau membuat tidak beroperasi sedikitnya 38 rumah sakit dan 96 pusat layanan kesehatan primer.
Selain itu, sekitar 90 persen jaringan listrik Gaza dilaporkan mengalami kerusakan, sehingga rumah-rumah sakit sepenuhnya bergantung pada generator listrik. Namun, blokade yang masih berlangsung menyebabkan pasokan bahan bakar sangat terbatas, sementara suku cadang dan oli mesin juga sulit diperoleh.
Akibatnya, generator yang menjadi satu-satunya sumber listrik harus bekerja tanpa henti melebihi kapasitas normal sehingga rentan mengalami kerusakan.
Situasi tersebut terjadi ketika serangan udara Israel masih berlangsung hampir setiap hari. Sejak berlakunya apa yang disebut sebagai gencatan senjata pada Oktober 2025, sedikitnya 1.092 orang dilaporkan tewas dan 3.507 lainnya terluka.
Sebagian besar generator utama di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa dilaporkan berhenti beroperasi sejak awal Mei 2026. Rumah sakit kini hanya mengandalkan generator cadangan dan energi surya yang kapasitasnya sangat terbatas sehingga sejumlah layanan medis terpaksa dikurangi.
Dokter bedah Omar al-Ashtal mengatakan, pasokan listrik yang tidak stabil sangat mengganggu pelayanan medis, terutama di ruang operasi.
"Apa yang kita saksikan hari ini bukan hanya kekurangan listrik, tetapi krisis kumulatif yang mencakup generator yang sudah usang, kekurangan bahan bakar, dan kurangnya suku cadang yang dibutuhkan untuk perawatan,” kata al-Ashtal.
“Berlanjutnya situasi ini mengancam kemampuan rumah sakit untuk menanggapi keadaan darurat dan meningkatkan penderitaan pasien yang menunggu perawatan dan bantuan medis," jelasnya.
Unit perawatan intensif (ICU), ruang operasi, ruang anestesi, serta ruang perawatan bayi baru lahir menjadi bagian yang paling terdampak. Gangguan listrik di unit-unit tersebut dapat mengancam keselamatan pasien, terutama bayi yang masih bergantung pada inkubator.
Krisis juga merambah layanan administrasi rumah sakit. Gangguan listrik dan internet menghambat pencatatan rekam medis pasien, pemantauan kasus, hingga koordinasi antarbagian.
Perawat Hamza Nawas mengatakan, tenaga medis tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik meski berada di bawah tekanan berat.
"Kami hidup di bawah tekanan setiap hari karena krisis listrik. Pada malam hari situasinya semakin sulit, terutama ketika suhu meningkat dan sejumlah layanan listrik kembali terganggu. Kami terus berusaha memberikan perawatan, tetapi kondisi saat ini membuat pekerjaan jauh lebih sulit," katanya.
Sementara itu, insinyur sistem energi Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, Omar al-Ghariz mengungkapkan bahwa generator rumah sakit telah bekerja terus-menerus selama berbulan-bulan dengan beban di atas kapasitas normal.
"Hal itu menyebabkan keausan yang signifikan pada berbagai komponen generator dan meningkatkan frekuensi kerusakan teknis," ucapnya.
Menurut dia, keterbatasan bahan bakar dan suku cadang memaksa tim teknisi hanya melakukan perbaikan sementara agar generator tetap menyala.
Ia memperingatkan bahwa kegagalan satu generator saja atau habisnya pasokan bahan bakar dapat menyebabkan terhentinya layanan-layanan vital di rumah sakit.
"Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan generator baru, suku cadang, dan dukungan teknis segera untuk memastikan keberlangsungan operasional rumah sakit," katanya.

4 hours ago
3





























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5532552/original/024344100_1773655185-pexels-undo-kim-2153633398-34628051.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528779/original/012654500_1773295183-2148501558.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543643/original/041077600_1775031375-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_14.33.02__1_.jpeg)











