Mengapa Kita Sering Salah Paham, Padahal Menggunakan Kata yang Sama?

4 hours ago 2

Image Aisya Ismirda

Pendidikan dan Literasi | 2026-07-11 15:24:20

Ilustri kajian semantik

Belakangan ini, rasanya semakin mudah menemukan orang yang berdebat. Cukup membuka media sosial, kita bisa melihat bagaimana satu unggahan memicu ratusan komentar yang saling bertentangan. Di grup WhatsApp keluarga, obrolan santai kadang berubah menjadi perdebatan. Di lingkungan kampus, diskusi yang awalnya bertujuan bertukar pikiran justru berakhir dengan adu argumen. Sekilas, semua itu tampak terjadi karena perbedaan pendapat. Namun, jika diamati lebih jauh, penyebabnya sering kali bukan karena orang-orang memiliki fakta yang berbeda, melainkan karena mereka memahami makna kata dengan cara yang berbeda.

Ambil contoh kata kritik. Sebagian orang menganggap kritik sebagai bentuk kepedulian yang bertujuan memperbaiki keadaan. Di sisi lain, ada yang memaknainya sebagai serangan terhadap harga diri atau upaya menjatuhkan seseorang. Begitu pula dengan kata bercanda. Ada yang melihatnya sebagai humor yang wajar, sementara yang lain justru merasa sedang direndahkan. Yang berubah bukanlah peristiwanya, melainkan cara setiap orang memberi makna terhadap kata yang digunakan untuk menjelaskan peristiwa itu.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?

Selama ini kita cenderung menganggap bahwa makna sebuah kata sudah melekat di dalam kata itu sendiri. Seolah-olah setiap orang akan memahami kata bebas, adil, sopan, atau menghargai dengan pengertian yang sama. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Ketika seseorang mendengar sebuah kata, ia tidak hanya mengingat arti yang tertulis di kamus. Ia juga membawa pengalaman hidup, nilai yang diyakini, latar budaya, hingga hubungan dengan lawan bicaranya. Semua hal itu ikut membentuk cara seseorang memahami sebuah kata.

Itulah sebabnya, dua orang bisa menggunakan kata yang sama, tetapi sebenarnya sedang membicarakan hal yang berbeda. Bagi seorang mahasiswa, kata deadline mungkin identik dengan tekanan dan begadang. Namun, bagi seorang dosen, deadline bisa dipahami sebagai bentuk tanggung jawab akademik yang harus dipenuhi. Kata yang digunakan sama, tetapi pengalaman yang melatarbelakanginya berbeda. Perbedaan pengalaman inilah yang sering kali luput kita sadari ketika berkomunikasi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa makna bukan sesuatu yang sepenuhnya tinggal di dalam kata. Makna justru lahir ketika kata bertemu dengan konteks dan pengalaman manusia. Dengan kata lain, bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga ruang tempat setiap orang membawa cara pandangnya sendiri. Karena itu, kata yang terdengar biasa bagi seseorang dapat terasa sangat sensitif bagi orang lain.

Dalam kajian linguistik, cara kerja makna seperti ini dipelajari dalam cabang ilmu yang disebut semantik. Berbeda dengan anggapan umum yang mengira semantik hanya membahas arti kata di kamus, semantik justru menunjukkan bahwa makna selalu dipengaruhi oleh konteks, pengalaman, budaya, dan cara manusia memandang dunia. Sebuah kata dapat memiliki arti yang sama secara leksikal, tetapi dipahami secara berbeda ketika digunakan dalam situasi yang berbeda.

Menyadari hal ini membuat kita melihat komunikasi dari sudut pandang yang baru. Mungkin selama ini kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa orang lain sengaja menyindir, tidak menghargai, atau bahkan ingin menyerang kita. Padahal, bisa jadi mereka hanya memaknai kata yang digunakan dengan cara yang berbeda. Begitu pula sebaliknya, apa yang menurut kita sudah jelas belum tentu dipahami dengan jelas oleh orang lain.

Pada akhirnya, bahasa memang diciptakan agar manusia dapat saling memahami. Namun, bahasa tidak pernah menjamin bahwa setiap orang akan memberikan makna yang sama terhadap kata yang sama. Barangkali, sebelum terburu-buru membalas sebuah pesan atau menyanggah pendapat seseorang, ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan terlebih dahulu: "Apakah kita sedang membicarakan hal yang sama, atau hanya menggunakan kata yang sama?" Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bisa menjadi awal untuk mengurangi banyak kesalahpahaman dalam kehidupan sehari-hari.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Food |