Kutip Kisah Nabi, Menag: Tidak Semua Hadiah Itu Gratifikasi

15 hours ago 9

Menteri Agama Nasaruddin Umar didampingi oleh Wakil Menteri Agama, Ketua Komisi VIII DPR, Ketua Majelis Ulama Indonesia dan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama saat menyampaikan hasil sidang isbat satu Ramadhan di Jakarta, Selasa (17/2/2026). Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada Kamis

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar menegaskan bahwa tidak semua hadiah dapat dikategorikan sebagai gratifikasi. Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan dalam acara Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinnekaan Lintas Agama di Lapangan Gereja Katedral Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Dalam sambutannya, Menag menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang menerima pemberian seekor kijang dari seorang pemilik kemah di padang pasir. Menurut dia, kisah itu mengandung pelajaran penting tentang ketulusan dalam memberi hadiah.“Ini pembelajaran Bapak Ibu, kalau kita dikasih hadiah seseorang dengan penuh ketulusan, tidak semua hadiah itu gratifikasi. Ini tulus kok, dikasih,”ujar Menag.

Ia menuturkan, saat itu Nabi Muhammad SAW membantu seekor kijang betina yang ingin menyusui anak-anaknya. Setelah kembali, pemilik kijang dengan tulus mempersilakan Nabi mengambil hewan tersebut sebagai hadiah. Namun Nabi justru melepaskan kijang itu agar bisa kembali membesarkan anak-anaknya di alam bebas.

Menurut Menag, sikap Nabi tersebut menunjukkan kasih sayang terhadap makhluk hidup sekaligus penghormatan terhadap pemberian orang lain. Ia menilai, seorang pemimpin yang baik juga harus menghargai hadiah yang diberikan dengan ketulusan."Nabi sendiri nenteng kijangnya itu, bukan sahabat. Itu caranya orang seorang tokoh yang baik menghargai pemberian orang, dia nggak minta ajudannya, asistennya,”kata dia.

Dalam sambutannya, Nasaruddin juga mengajak masyarakat mengembangkan konsep ekoteologi dan “kurikulum cinta” yang kini tengah digalakkan Kementerian Agama. Program tersebut, kata dia, bertujuan menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan, hewan, tumbuhan, dan sesama manusia.

“Selama ini hanya menjadikannya sebagai objek. Saya mengimbau lembaga pendidikan manapun juga, mari kita kembangkan ekoteologi dan kurikulum cinta. Mari kita menjadi contoh dalam dunia internasional bahwa cinta adalah jalan penyelesaian yang terbaik di atas semua problem yang ada,”ujar dia.

Read Entire Article
Food |