REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di sebuah siang yang tenang di penghujung Februari 2026, kabar itu datang seperti desir angin yang pelan namun terasa dalam: Alex Noerdin telah berpulang. Rabu, 25 Februari 2026, pukul 13.30 WIB, di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta, lelaki kelahiran 1950 itu menutup usia pada angka 75 tahun.
Bagi Sumatera Selatan, ia bukan sekadar mantan gubernur dua periode (2008–2018). Ia adalah bab penting dalam ingatan kolektif: tentang keberanian bermimpi besar, tentang keyakinan bahwa daerah di tepian Sungai Musi pun mampu berdiri sejajar di panggung nasional dan internasional.
Nama Alex Noerdin kerap disebut dalam daftar panjang pembangunan fisik. Namun di antara beton, baja, dan bentang jembatan, ada satu warisan yang sering luput dari sorot lampu: kedekatannya dengan dunia pers.
Tahun 2009, ia memanggil Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Selatan. Ia tidak datang dengan proposal teknis atau angka-angka anggaran, melainkan dengan gagasan sederhana namun berani: Sumsel harus menggelar sebuah perhelatan pers berskala nasional. Ketika PWI Sumsel, tanpa sepengetahuannya, menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) 2010 dalam pertemuan di Jakarta, Alex tidak mundur.
“Sumsel siap segalanya,” begitu ia menyatakan. Dan pernyataan itu bukan retorika.
HPN 2010 di Palembang kemudian melahirkan Piagam Palembang, sebuah ikrar moral yang menegaskan pentingnya uji kompetensi wartawan (UKW) dan profesionalisme perusahaan pers. Delapan belas pimpinan perusahaan media nasional menandatangani piagam itu, dari Dahlan Iskan hingga Erick Thohir, meneguhkan komitmen menjaga kemerdekaan pers sebagai wujud kedaulatan berekspresi rakyat.
Di tahun yang sama, lahir Sekolah Jurnalisme Indonesia pertama di Sumsel. Kuliah perdananya diisi langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bagi banyak wartawan muda di Palembang dan sekitarnya, itu adalah momen ketika profesi mereka terasa dihargai, ditopang, dan diangkat martabatnya.
Tak berhenti di sana, Sumsel menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2010, lalu dipercaya menggelar pertemuan Wartawan ASEAN pada 2011. Pemerintah Provinsi Sumsel secara konsisten memfasilitasi uji kompetensi wartawan. Dari Palembang, gema profesionalisme pers menggema ke berbagai penjuru negeri.
Atas perannya, PWI menganugerahkan kepadanya predikat “Sang Pena Emas” pada 2010. Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) pun memberinya penghargaan sebagai Tokoh Peduli Wartawan ASEAN. Di antara hiruk-pikuk politik dan pembangunan, ia memilih berdiri di sisi para pewarta, mereka yang menulis sejarah hari demi hari.
Namun tentu saja, publik lebih luas mengenangnya lewat legasi infrastruktur. Di masa kepemimpinannya, Jakabaring Sport City berkembang menjadi arena olahraga berkelas internasional. Kompleks itu menjadi tuan rumah SEA Games 2011 dan kemudian ikut menyokong perhelatan Asian Games 2018.
sumber : Antara

16 hours ago
6




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)











