Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.

Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ada satu hal yang sering tidak disadari ketika masyarakat melihat rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat: yang bergerak bukan hanya ekonomi, melainkan juga psikologi publik.
Begitu layar perdagangan menunjukkan angka kurs menembus batas tertentu, kegelisahan segera menyebar. Judul media menjadi lebih keras.
Media sosial berubah seperti ruang kepanikan massal. Percakapan warung kopi mulai dipenuhi kekhawatiran tentang krisis. Seolah-olah nasib sebuah bangsa ditentukan hanya oleh satu angka yang bergerak di pasar valuta asing.
Padahal sejarah ekonomi dunia tidak pernah sesederhana itu.
Dalam sistem ekonomi global modern, nilai tukar mata uang bukan hanya ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonomi, melainkan juga oleh arus modal spekulatif, algoritma perdagangan, perang geopolitik, ekspektasi investor, lembaga pemeringkat, hingga psikologi ketakutan pasar dunia.
George Soros pernah menjelaskan melalui teori reflexivity bahwa pasar tidak sekadar membaca kenyataan, tetapi sering ikut membentuk kenyataan itu sendiri.¹
Ketika persepsi negatif dibangun terus-menerus, modal keluar, tekanan meningkat, dan kepanikan perlahan dapat berubah menjadi masalah ekonomi nyata.
Karena itu, ekonomi global hari ini bukan hanya perang produksi dan perdagangan, melainkan juga perang persepsi.
Karl Polanyi sejak lama telah mengingatkan bahwa pasar modern memiliki kecenderungan melepaskan dirinya dari realitas sosial masyarakat.²
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

13 hours ago
8












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5210295/original/020455400_1746503932-cef51a0b-171c-465c-b961-0b620c5bafe2.jpg)


