Mengapa Kita Semakin Lelah, Padahal Hidup Semakin Mudah?

10 hours ago 11

Image Ahmad Rahmatulloh

Gaya Hidup | 2026-07-25 04:07:35

Dulu, orang tua kita sering mengingatkan untuk selalu menjaga makanan yang masuk ke mulut. Kita diajarkan memilih yang bersih, yang sehat, dan menghindari yang beracun agar tubuh tidak jatuh sakit. Hari ini, di tengah riuhnya dunia modern, saya mulai bertanya-tanya: siapa yang mengingatkan kita untuk menjaga makanan yang masuk ke mata dan telinga?

Kita beruntung hidup di zaman yang serba mudah. Segala sesuatunya dirancang untuk memanjakan manusia. Makanan bisa dipesan tanpa perlu beranjak dari tempat duduk. Informasi dari belahan dunia lain datang tanpa perlu bersusah payah dicari. Hiburan instan tersedia dua puluh empat jam sehari, tepat di dalam genggaman tangan. Teknologi telah sukses membuat banyak pekerjaan fisik menjadi jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelum kita.Namun, di balik semua kemudahan dan kenyamanan yang kasat mata itu, ada sesuatu yang terasa ganjil.

Mengapa manusia modern justru semakin mudah merasa lelah?Saya pernah mengalami masa ketika tidak sedang melakukan pekerjaan fisik yang berat, namun setiap malam tetap merasa sangat lelah. Awalnya saya mengira penyebabnya adalah kurang istirahat atau terlalu banyak pekerjaan. Namun setelah diperhatikan, ternyata sebagian besar energi saya justru habis oleh arus informasi yang tidak pernah berhenti.

Dari pagi hingga malam, mata dan telinga terus menerima berita, video, opini, dan berbagai peristiwa yang sebenarnya tidak selalu perlu saya bawa ke dalam ruang batin.Kelelahan yang kita rasakan hari ini bukan lagi sekadar lelah fisik setelah mencangkul di sawah atau berjalan kaki berkilo-kilometer. Ini adalah kelelahan jenis baru: lelah batin. Gejalanya sangat nyata di sekitar kita—atau bahkan di dalam diri kita sendiri.

Manusia menjadi mudah marah, mudah tersinggung oleh komentar orang asing di internet, mudah cemas akan masa depan yang belum terjadi, sulit menemukan ketenangan, dan semakin sulit untuk merasa cukup. Padahal, jika dibandingkan dengan generasi orang tua atau kakek-nenek kita, fasilitas kehidupan hari ini jauh lebih mewah dan nyaman.

Jika dulu banyak penyakit dikaitkan dengan apa yang masuk ke mulut, hari ini saya melihat ada kemungkinan lain yang jarang dibicarakan. Ada jenis “makanan” lain yang terus kita konsumsi tanpa henti, yaitu makanan yang masuk melalui mata dan telinga.

Setiap hari, sejak membuka mata di pagi hari hingga menjelang tidur malam, kita melihat ratusan bahkan ribuan gambar di layar ponsel. Kita mendengar berbagai berita buruk, opini yang saling berbenturan, pertengkaran digital, kekhawatiran global, dan ketakutan yang sengaja diamplifikasi oleh algoritma. Semua itu masuk ke dalam ruang kesadaran kita, meninggalkan jejak-jejak emosional yang sering kali tidak kita sadari.

Sebagaimana tubuh kita bisa kotor dan terkena debu karena aktivitas seharian, batin pun menerima berbagai endapan dari apa yang kita lihat, dengar, pikirkan, dan rasakan. Satu per satu informasi itu mungkin terasa sepele. Namun, sedikit demi sedikit, hari demi hari, endapan itu bertambah tebal. Akibatnya, kita mulai kehilangan kejernihan berpikir. Kita kehilangan ketenangan emosi. Kita mulai merasa memikul beban yang sangat berat tanpa benar-benar memahami apa penyebab pastinya.

Barangkali, masalah terbesar manusia modern bukan karena ia kekurangan informasi. Sebaliknya, ia justru mengalami obesitas informasi, namun di saat yang sama kekurangan ruang sunyi untuk membersihkan apa saja yang telah menempel di dalam dirinya.

Kita sangat rajin membersihkan tubuh luar kita. Kita mandi setiap hari, menjaga asupan nutrisi, menghitung kalori, hingga menyempatkan diri untuk berolahraga demi kebugaran fisik. Tetapi pertanyaannya, kapan terakhir kali kita memberi waktu bagi batin untuk benar-benar beristirahat? Kapan terakhir kali kita dengan sengaja memeriksa dan menyaring apa saja yang telah masuk melalui mata dan telinga kita?

Mungkin kelelahan zaman ini bukan berasal dari beban pekerjaan yang terlalu berat. Mungkin sebagian besar justru berasal dari sampah-sampah digital yang terus menumpuk di dalam pikiran tanpa pernah kita saring.Mungkin kita tidak perlu mengetahui segala hal yang terjadi di dunia. Tidak semua berita harus kita ikuti. Tidak semua perdebatan harus kita masuki. Tidak semua suara harus kita dengarkan. Sebab ketenangan sering kali bukan lahir dari banyaknya jawaban yang kita miliki, melainkan dari kemampuan untuk memilih apa yang layak kita izinkan masuk ke dalam diri.

Pada akhirnya, seperti halnya kita memilih untuk menutup mulut dari makanan yang buruk bagi tubuh, barangkali sekarang saatnya kita juga belajar untuk menutup mata dan telinga dari riuh dunia yang tidak perlu. Sebelum mencari solusi pelarian yang jauh, kita hanya perlu kembali menyediakan ruang sunyi, duduk tenang, dan belajar mengenali diri kita sendiri.

Oleh: Ahmad Ramatulloh

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Food |