Menjaga Momentum Piala Dunia 2026

1 hour ago 7

Oleh: Vicky Arief Herinadharma, Vicky Arief Herinadharma, praktisi ekonomi kreatif, Ketua Harian ICCN

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Perhelatan Piala Dunia 2026 boleh saja usai, tetapi dampak ekonomi ke para pedagang dan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), masih dirasakan hingga saat ini. Dampak tersebut berpotensi berkelanjutan.

Contohnya, Dian Sangaji, pemilik warung kopi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, mendapatkan pelanggan baru akibat Piala Dunia 2026.

Ia menyediakan siaran TVRI lewat antena khusus pertandingan-pertandingan yang dimulai antara pukul 23.00 hingga 02.00 WIB.

"Pelanggan baru mampir buat nonton Piala Dunia. Kadang mereka cuma pesen kopi atau es teh, kadang es jeruk. Cuma positifnya mereka akhirnya tahu ada warung di sini," kata Dian.

Bagi Dian, pelanggan baru penting untuk keberlangsungan warungnya yang berdiri sejak tahun 2017. Dua sampai tiga pelanggan baru muncul setiap hari karena tayangan Piala Dunia 2026 yang disiarkan TVRI sebagai “Rumah Sepak Bola Dunia untuk Indonesia”.

Selain untuk menarik pelanggan baru, pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2026 juga mendatangkan keuntungan yang melonjak bagi sejumlah pedagang.

Berto, pedagang sempol ayam yang telah berjualan selama lima tahun di Lapangan Warna-Warni Martubung, Medan, Sumatera Utara, yang menjadi lokasi kegiatan “Music Corner dan Nobar Asyik Bola Gembira” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).

Biasanya, Berto menyiapkan 1.000 hingga 1.500 porsi sempol ayam per hari. Namun, selama acara nonton bareng, jumlah porsi yang ia bawa mencapai 2.000 hingga 3.000. Praktis, pendapatan Berto pun melonjak sampai dua kali lipat.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |