Muhammadiyah dan Harapan dari Muktamar NU

8 hours ago 10

Kiai sepuh sekaligus Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin menyampaikan keterangan usai pertemuan kiai sepuh di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Dalam pertemuan tersebut para kiai sepuh menyampaikan tujuh poin seruan moral untuk Muktamar Ke-35 NU yang bermartabat.

Oleh: Anwar Abbas, Ketua PP Muhammadiyah dan Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan

REPUBLIKA.CO.ID, Hari ini, Kamis, 27 Agustus 2026 Muktamar NU ke-35 akan dibuka di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Sebagai salah seorang ketua di jajaran PP Muhammadiyah saya ditanya oleh teman-teman tentang apa harapan saya dari Muktamar NU kali ini.

Harapan saya semoga Muktamar bisa berjalan dengan baik dan lancar. Di samping itu Muktamar juga diharapkan akan dapat melahirkan program-program kerja yang akan bisa membuat NU dan umat Islam serta bangsa dan negara kita akan semakin lebih baik dan lebih maju lagi.

Untuk itu, kita berharap agar Muktamar dapat memilih pimpinan NU untuk masa 5 tahun kedepan yang akan dapat melaksanakan amanat dari Muktamar tersebut dengan baik. Kepada pimpinan terpilih kita berharap agar mereka dapat lebih memperkuat lagi persatuan dan kesatuan di kalangan umat yang telah terbangun selama ini karena hal ini tidak hanya merupakan harapan dari umat islam Indonesia saja tapi juga sudah menjadi harapan umat Islam dunia.

Saya punya pengalaman menarik ketika ikut delegasi MUI berkunjung ke Iran tahun 2008. Dalam pertemuan dengan orang kedua dalam hirarki kepemimpinan di Iran waktu itu, Sang Ayatullah berkata kepada kami bahwa umat Islam akan kembali memimpin dunia, tetapi umat Islam yang akan kembali memimpin dunia tersebut kata sang Ayatullah bukanlah umat Islam dari Timur Tengah, bukan umat islam dari Turki dan bukan umat Islam dari Iran tetapi adalah umat Islam dari Indonesia.

Untuk itu, kata sang Ayatullah, saya titip pesan satu tolong ukhuwah Islamiyah antara NU dan Muhammadiyah dijaga. Hal itu tentu saja membuat saya terkejut karena hal itu beliau sampaikan dalam nada yang serius.

Berarti sang Ayatullah sudah mengerti dan tahu betul peta umat Islam Indonesia. Pesan ini tentu menjadi lebih bermakna lagi karena kita tahu bahwa persatuan dan kesatuan itu memang sangat penting bagi suatu umat atau bangsa karena dia akan menjadi fondasi utama bagi terjaganya keutuhan dan terciptanya kedamaian, serta tercapainya tujuan bersama.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |