Pengangguran Masih 7,24 Juta, Kesenjangan Kampus dan Industri Jadi Sorotan

4 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Jumlah pengangguran Indonesia mencapai 7,24 juta orang pada Februari 2026. Di tengah kondisi tersebut, perguruan tinggi menghadapi tantangan untuk memastikan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) Februari 2026 sebesar 4,68 persen, turun dari 4,76 persen pada Februari 2025. Jumlah angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang dengan 147,67 juta orang bekerja.

Persoalan keterhubungan pendidikan dan dunia kerja turut menjadi perhatian Universitas Pembangunan Jaya (UPJ). Berdasarkan tracer study yang dipaparkan dalam UPJ Connect 2026, sebanyak 93,4 persen responden lulusan 2022 telah bekerja sebelum wisuda. Waktu tunggu pekerjaan pertama disebut sekitar minus tiga bulan.

Namun, keterserapan tersebut belum sepenuhnya berarti pekerjaan sesuai dengan latar belakang pendidikan. Data yang sama menunjukkan 63,2 persen lulusan bekerja sesuai bidang studi, sedangkan kesesuaian jenjang karier dengan tingkat pendidikan mencapai 85,9 persen.

Untuk memperkuat hubungan dengan industri, UPJ menempatkan pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, sebanyak 232 mahasiswa mengikuti program pemagangan di berbagai unit usaha dalam ekosistem Pembangunan Jaya.

UPJ juga menerapkan magang berdampak dengan bobot 20 hingga 40 SKS. Mahasiswa dapat menjalani magang setidaknya satu semester dan mengonversinya menjadi bagian dari nilai akademik.

Presiden UPJ Ir. Frans Sunito mengatakan pengalaman menghadapi persoalan nyata dan berinteraksi dengan praktisi menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa memasuki dunia profesional.

“Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan mereka memasuki dunia profesional,” kata Frans dalam UPJ Connect 2026 di Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (27/8/2026).

Dari sisi industri, Pimpinan Unit BXSea Oceanarium Sri Agung Agus Putranto mengatakan perusahaan membutuhkan talenta yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik.

“Industri membutuhkan talenta yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memahami bagaimana sebuah organisasi bekerja dan memberikan nilai bagi masyarakat,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan tantangan penyerapan lulusan perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja. Kesesuaian kompetensi dan pengalaman dengan kebutuhan industri juga menjadi bagian penting dalam mempertemukan lulusan dengan pasar kerja.

Read Entire Article
Food |