REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Israel menolak berkontribusi secara finansial pada rekonstruksi Jalur Gaza melalui Dewan Perdamaian Presiden AS Donald Trump. Hal ini mereka nyatakan meski telah mengakibatkan kerugian raksasa setelah dua tahun lebih menghancurkan Gaza.
Sejak serangan Israel ke Jalur Gaza pada Oktober 2023, wilayah pesisir Palestina itu mengalami penghancuran infrastruktur, harta benda, dan sektor ekonomi yang masif. Dampaknya tidak hanya pada kehidupan sosial kemasyarakatan, tetapi juga berimplikasi pada kerugian materiil besar yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih.
Laporan bersama Bank Dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa kerusakan fisik pada infrastruktur vital di Gaza mencapai sekitar 18,5 miliar dolar AS pada akhir Januari 2024. Ini meliputi kerusakan di sektor perumahan, fasilitas air bersih, kesehatan, pendidikan, serta gedung industri dan komersial. Angka ini setara dengan 97 persen Produk Domestik Bruto (PDB) gabungan wilayah Tepi Barat dan Gaza pada 2022.
Studi perpanjangan dari Badan Pemerintah Gaza memperkirakan bahwa kerugian awal langsung untuk 15 sektor vital sepanjang 2025 telah menembus lebih dari 33 miliar dolar AS, termasuk kehancuran luas di sektor pertanian, peternakan, perikanan, serta jaringan listrik dan layanan publik lain.
Beberapa data statistik yang dipublikasikan oleh Kantor Media Pemerintah di Gaza bahkan mengindikasikan total kerugian materiil mencapai sekitar USD 70 miliar dolar AS selama dua tahun konflik, mencakup kerusakan perumahan, fasilitas publik, pendidikan, kesehatan dan sektor produktif lainnya.
Sepanjang dua tahun genosida, puluhan ribu unit rumah di Gaza hancur atau rusak berat, membuat jutaan warga kehilangan tempat tinggal. Ratusan kilometer jaringan listrik, air, dan jalan juga dilaporkan lumpuh total.
Rekaman menunjukkan gambar sebelum dan sesudah serangan Israel di Jalur Gaza, dari tahun 2023 dan 2025. Video baru ini diambil dari pesawat Yordania yang mengantarkan bantuan, dan dirilis pada 5 Agustus 2025.
Jumlah puing diperkirakan mencapai puluhan juta ton, mempersulit proses pembersihan dan rekonstruksi. Fasilitas kesehatan dan pendidikan mengalami kerusakan berat, dengan banyak sekolah dan rumah sakit tidak lagi beroperasi.
Layanan dasar masyarakat seperti air bersih, sanitasi dan listrik terputus, memperparah kondisi kemanusiaan. Lahan pertanian, sumur, serta peralatan produksi rusak parah, menghancurkan sumber penghidupan masyarakat lokal dan memicu ketergantungan pada bantuan luar negeri. Kerugian sektor pertanian diperkirakan mencapai miliaran dolar AS.
Kegiatan ekonomi di Gaza juga hampir terhenti, memicu kontraksi tajam perekonomian Gaza.
Merujuk PBB, estimasi kebutuhan biaya rekonstruksi dan pemulihan infrastruktur di Gaza dalam dekade mendatang berkisar antara 40 miliar hingga 53 miliar dolar AS tergantung pada tingkat akses, keamanan, dan dukungan internasional. Dampak kerusakan yang luas itu bukan hanya kerugian finansial, tetapi juga menghadirkan tantangan struktural untuk pemulihan sosial-ekonomi masyarakat Gaza dalam jangka panjang.
Sepanjang dua tahun lebih genosida, Israel telah membunuh setidaknya 72 ribu warga Gaza, kebanyakan anak-anak dan perempuan. Sejak gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025, 600 lebih warga Gaza dibunuh dalam berbagai pelanggaran gencatan senjata.

5 hours ago
5




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)











