OPZ dan Ilusi Lini Masa

12 hours ago 5

Oleh: Nana Sudian, Sekjen FOZ dan Direktur IZI

REPUBLIKA.CO.ID, Ada ironi yang teramat pedih dalam panggung siasat modern: "ketika argumen keberhasilan tak sanggup menjadi fakta, orang-orang bergegas merias ilusi menjadi bahan berita".

Kita pernah menyaksikannya di Portugal pada Januari 2021. André Ventura melontarkan cemoohan pada Marisa Matias hanya karena seulas lipstik merah menyala. Riasan itu dituding tak profesional dan tak pantas di ruang politik.

Ventura percaya dengan mengerdilkan tampilan, ia telah memenangkan perdebatan. Namun, sejarah punya cara memantulkan kembali kekerdilan itu.

Ribuan perempuan bergerak membalas. Tagar #VermelhoEmBelem (Merah di Belém) membakar jagat siber. Kata "Belém" merujuk pada Belém Palace (Istana Kepresidenan Portugal) yang menjadi tujuan pencalonan presiden tersebut.

Foto-foto berlatar gincu merah membanjiri lini masa, seolah perlawanan menuju istana kepresidenan itu telah menang mutlak di panggung digital. Namun, layar telepon pintar kerap menyajikan ilusi yang melampaui kenyataan.

Ketika bilik suara dibuka, Marisa Matias hanya mengantongi kurang dari empat persen suara. Sebaliknya, Ventura justru melesat hingga hampir dua belas persen.

Dunia digital memenangkan percakapan, tetapi dunia nyata memilih cerita yang sama sekali berbeda. Algoritma membuat ribuan orang merasa sedang mengubah dunia, padahal yang berubah hanyalah warna foto profil dan angka tagar.

Simbol perlawanan itu perlahan terkooptasi menjadi tren pasif, bahkan dilahap kapitalisme menjadi komoditas dagangan kosmetik. Di titik itulah, cermin retak dari Lisbon diam-diam terpantul ke wajah Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) hari ini.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |