Pengamat Sebut MIND ID akan Nikmati Lonjakan Kinerja di Semester II, Ini Alasannya

1 hour ago 3

Grup MIND ID diproyeksikan menikmati lonjakan kinerja pada semester II/2026 seiring penguatan harga komoditas global yang ditopang percepatan proyek hilirisasi di sejumlah anak usahanya. Kombinasi kedua faktor tersebut dinilai akan menjadi mesin pertumbuhan bagi holding industri pertambangan BUMN tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Grup MIND ID diproyeksikan menikmati lonjakan kinerja pada semester II/2026 seiring penguatan harga komoditas global yang ditopang percepatan proyek hilirisasi di sejumlah anak usahanya. Kombinasi kedua faktor tersebut dinilai akan menjadi mesin pertumbuhan bagi holding industri pertambangan BUMN tersebut.

Pengamat tambang dan energi Ferdy Hasiman memperkirakan kinerja emiten-emiten di bawah MIND ID dapat tumbuh rata-rata hingga 30 persen pada paruh kedua tahun ini. Proyeksi itu didukung tren kenaikan harga nikel, timah, batu bara, hingga emas di pasar global yang mulai memberikan sentimen positif bagi industri pertambangan.

Menurut Ferdy, proyek hilirisasi yang dijalankan anak usaha MIND ID mulai menunjukkan prospek yang menjanjikan. Di saat bersamaan, penguatan harga komoditas akan memperbesar peluang peningkatan pendapatan dan laba perusahaan.

"Saya kira bisa tumbuh rata-rata 30 persen karena melihat harga komoditas sekarang," kata Ferdy di Jakarta, dikutip Selasa (28/7/2026).

Ia menilai PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan MIND ID melalui pengembangan proyek hilirisasi nikel. Smelter ANTM di Sulawesi Tengah berkapasitas sekitar 27 ribu metrik ton dan proyek Feni Haltim di Halmahera berkapasitas sekitar 14 ribu metrik ton diperkirakan akan memperkuat kontribusi perusahaan terhadap kinerja holding.

"Itu akan mendorong kinerja dari MIND ID karena itu anak perusahaannya yang menurut saya cukup progresif untuk membangun proyek hilirisasi tambang," ujar Ferdy.

Prospek tersebut didukung proyeksi sejumlah lembaga internasional terhadap harga komoditas pada 2026. Bank Dunia memperkirakan harga nikel berada di kisaran 15.500 dolar AS per metrik ton, sedangkan Goldman Sachs memproyeksikan sekitar 14.500 dolar AS per metrik ton pada akhir tahun. JPMorgan juga memperkirakan harga emas rata-rata mencapai 4.300 dolar AS per ons pada kuartal III sebelum meningkat menjadi 4.500 dolar AS per ons pada kuartal IV, dengan target akhir di level 4.545 dolar AS per ons.

Selain ANTM, PT Timah Tbk (TINS) diperkirakan turut menikmati dampak kenaikan harga timah global. BMI (Fitch Solutions) telah merevisi proyeksi rata-rata harga timah 2026 menjadi 35.000 dolar AS per ton dari estimasi sebelumnya sebesar 32.000 dolar AS per ton.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga diproyeksikan memperoleh sentimen positif seiring pulihnya harga batu bara global. Ferdy mengingatkan pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), agar menjaga stabilitas kebijakan sehingga momentum penguatan harga komoditas dan hilirisasi dapat memberikan kontribusi optimal bagi industri pertambangan dan penerimaan negara.

Read Entire Article
Food |