REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga lulusan Universitas Indonesia, dr. Andi Kurniawan Sp.KO, menjelaskan bahwa penurunan berat badan saat berpuasa merupakan respons fisiologis yang normal. Rata‑rata penurunan tersebut berkisar antara setengah sampai satu kilogram per minggu.
“Sebagai patokan sederhana yang mudah dipahami, penurunan wajar adalah 0,5–1 kg per minggu, atau tidak lebih dari 4 kg total selama satu bulan Ramadhan,” kata Andi pada Kamis.
Menurut Andi, hampir separuh orang yang berpuasa, sekitar 44%, mengalami penurunan berat badan. Prosesnya dimulai dengan tubuh menghabiskan cadangan glikogen otot (100–120 gram) dalam 12–14 jam pertama tanpa asupan makanan. Setelah itu, tubuh beralih ke glukoneogenesis (pembuatan glukosa dari protein dan lemak) dan memulai lipolisis (pemecahan lemak).
Kapan Penurunan Berat Badan Bisa Jadi Tanda Bahaya?
Penurunan berat badan yang lebih dari 2 kg per minggu saat puasa bisa menjadi tanda berbahaya. Hal ini dapat disebabkan oleh: dehidrasi berat; kehilangan massa otot (sarkopenia).
Tanda‑tanda fisik yang perlu diwaspadai meliputi: pusing hebat yang menetap; kulit tidak elastis (tanda dehidrasi); kelelahan ekstrem yang tidak membaik setelah berbuka.
Siapa yang Perlu Pengawasan Khusus?
Beberapa kelompok populasi memerlukan pengawasan ketat saat berpuasa terkait penurunan berat badan:
Lansia di atas 60 tahun: berisiko mengalami kehilangan otot yang dipercepat (sarkopenia) yang sulit dipulihkan.
Penderita diabetes tipe 1 atau tipe 2 yang menggunakan insulin: wajib memantau berat badan dan gula darah secara ketat.
Remaja dalam fase pertumbuhan: defisit nutrisi dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan perkembangan kognitif.
Orang dengan IMT tinggi (overweight/obesitas): cenderung mengalami penurunan berat badan lebih besar dibanding mereka dengan berat badan normal.
Andi menambahkan, berdasarkan analisis yang diterbitkan Nutrients, rata‑rata penurunan berat badan normal selama 30 hari Ramadhan berkisar 0,5 hingga 1,5 kg pada populasi umum yang tidak melakukan intervensi diet khusus. Pada individu yang aktif berolahraga dan mengontrol pola makan, penurunan bisa mencapai 2 kg dalam sebulan, masih dalam kategori sehat karena berasal dari pengurangan massa lemak dengan preservasi massa otot.
“Perubahan ini tidak terjadi pada semua orang. Gaya hidup Anda saat berbuka memegang peranan kunci,” tegas Andi.
Pola Diet yang Sehat: Pandangan Dokter Spesialis Gizi Klinik
Dokter spesialis gizi klinik, Dr. dr. Inge Permadhi, MS, SpGK(K), menekankan pentingnya menerapkan pola diet dengan benar untuk menurunkan berat badan. Ia mengingatkan bahwa penurunan berat badan drastis bisa menjadi tanda kesalahan dalam menerapkan diet, yang berujung pada malnutrisi.
sumber : Antara

12 hours ago
8




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)











