Perluasan Pasar Bisa Perkuat Investasi Industri Protein Nasional

9 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perluasan akses pasar dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat investasi di sektor protein nasional. Pasar yang lebih luas diyakini mampu mendorong masuknya investasi baru, mempercepat modernisasi industri, serta meningkatkan daya saing sektor peternakan Indonesia.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Panggah Susanto mengatakan, pengembangan industri protein nasional perlu diarahkan pada pembukaan pasar yang lebih luas agar investasi dapat tumbuh dan memberikan dampak terhadap peningkatan produktivitas.

"Investasi menjadi faktor penting untuk mempercepat adopsi teknologi, meningkatkan efisiensi produksi, sekaligus memperkuat kapasitas industri dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat yang terus meningkat," kata Panggah di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Menurut dia, masuknya investasi tidak hanya menghadirkan tambahan modal, tetapi juga membuka peluang peningkatan kualitas sumber daya manusia, penerapan praktik terbaik, serta peningkatan standar mutu produk protein nasional sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Panggah menilai transformasi industri ayam dapat menjadi model pengembangan subsektor protein lainnya. Menurut dia, investasi yang didukung teknologi mampu menciptakan ekosistem usaha yang lebih efisien tanpa menghilangkan peran peternak rakyat melalui pola kemitraan.

"Industri ini di-drive hanya oleh dua company besar dengan investasi padat modal dan teknologi," ujarnya. Melalui pola tersebut, peternak memperoleh akses terhadap bibit unggul, teknologi, pembiayaan, hingga kepastian pasar.

Ia menilai pendekatan serupa berpotensi diterapkan pada subsektor sapi, kambing, perikanan, maupun sumber protein lainnya dengan tetap menyesuaikan karakteristik masing-masing komoditas dan wilayah. Selain itu, kemitraan strategis dengan perusahaan protein global yang memiliki pengalaman, teknologi, dan jaringan pasar internasional dinilai dapat mempercepat pengembangan ekosistem protein nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dalam skema tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga mitra strategis melalui pembentukan perusahaan patungan (joint venture). Dengan model itu, Indonesia dapat memiliki kepemilikan saham (equity stake) dan keterwakilan dalam dewan direksi (board seat), sehingga memiliki peran dalam pengambilan keputusan strategis sekaligus memastikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi industri nasional.

Pandangan tersebut sejalan dengan kajian Prasasti Center for Policy Studies yang menyebut pengembangan sektor protein tidak lagi dapat dilakukan secara terpisah berdasarkan komoditas. Menurut kajian itu, pembangunan ekosistem protein harus menghubungkan seluruh rantai nilai, mulai dari penyediaan bibit dan benih, pakan, kesehatan hewan, pembiayaan, produksi, pengolahan, logistik, distribusi, hingga akses pasar.

Prasasti menilai Indonesia memiliki modal besar untuk membangun industri protein yang kompetitif karena didukung pasar domestik yang luas dan sumber protein yang beragam. Namun, potensi tersebut masih perlu dioptimalkan karena berbagai subsektor protein masih berkembang secara terpisah sehingga investasi, infrastruktur, teknologi, dan sistem logistik belum terintegrasi secara optimal.

Kajian tersebut juga menekankan pentingnya strategi pengembangan yang disesuaikan dengan karakteristik setiap wilayah. Dengan mengarahkan investasi sesuai potensi daerah, produktivitas diyakini dapat meningkat secara lebih efektif. Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga riset, dan pelaku usaha juga dinilai menjadi prasyarat untuk membangun ekosistem protein nasional yang tangguh dan berdaya saing.

Read Entire Article
Food |