Perwakilan Akademisi Indonesia Tawarkan Model Ekonomi Islam Bebas Utang di Forum Dunia

4 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketergantungan pada utang dinilai bukan satu-satunya cara membiayai pembangunan. Perwakilan akademisi Indonesia menawarkan model ekonomi Islam yang mengedepankan optimalisasi aset produktif, zakat, wakaf, dan partisipasi masyarakat sebagai alternatif memperkuat keuangan negara tanpa membebani generasi mendatang.

Gagasan tersebut dipaparkan Dr. Any Setianingrum dari Universitas YARSI dalam makalah berjudul Redistribution as Governance: An Islamic Framework for Sustainable Public Treasury yang dipresentasikan pada konferensi Society for the Advancement of Socio-Economics (SASE) 2026 di Prancis. Dalam makalahnya, Any menawarkan arsitektur keuangan publik berbasis redistribusi yang tidak bergantung pada utang dan mengoptimalkan sumber daya dalam negeri untuk mendukung pembangunan.

Menurut Any, salah satu kunci model tersebut adalah memastikan kekayaan terus berputar di masyarakat melalui mekanisme redistribusi yang adil, bukan hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu.

"Redistribusi ini bukan hanya sebagai kegiatan charity atau kegiatan sosial semata. Tapi redistribusi ini harus menjadi indikator utama sebuah tata kelola di sebuah negara maupun di setiap institusi," ujar Any kepada Republika, Senin (29/6/2026).

Ia menjelaskan, redistribusi tak sekadar dimaknai sebagai bantuan sosial, tetapi menjadi bagian dari tata kelola ekonomi yang mendorong pemerataan manfaat pembangunan. Melalui pendekatan tersebut, negara dapat mengoptimalkan aset produktif, zakat, dan wakaf sebagai sumber pembiayaan sehingga ketergantungan terhadap utang dapat dikurangi.

Any juga menilai nilai-nilai ekonomi Islam harus diwujudkan dalam tata kelola pemerintahan, dunia usaha, dan lembaga keuangan melalui transparansi, akuntabilitas, serta minimnya konflik kepentingan. Menurut dia, lembaga keuangan juga perlu memastikan pembiayaan lebih berkeadilan, termasuk memberikan ruang yang memadai bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Kalau kita bicara ekonomi Islam, sebenarnya kita berbicara masyarakat global. Nilai-nilai Islam itu bersifat universal," katanya.

Selain menawarkan model pembiayaan yang lebih berkelanjutan, Any juga mengusulkan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memperkuat transparansi tata kelola ekonomi. AI dinilai dapat membantu mendeteksi konflik kepentingan, penyimpangan, hingga korupsi sehingga implementasi prinsip moral dalam ekonomi dapat berjalan lebih efektif.

Konferensi SASE merupakan forum ilmiah internasional yang mempertemukan akademisi dari lebih dari 50 negara. Pada penyelenggaraan tahun ini, hanya sekitar 45 persen makalah yang lolos seleksi untuk dipresentasikan. Dari Indonesia, perguruan tinggi yang berpartisipasi antara lain Universitas YARSI, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung.

Read Entire Article
Food |