Oleh: Suryanto, Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya; dan Bagong Suyanto, Guru Besar Sosiologi, FISIP Universitas Airlangga Surabaya
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada H-7 Lebaran 2025, ruas Tol Trans Jawa berubah menjadi lautan kendaraan. Di sejumlah titik, antrean mengular belasan kilometer, stasiun, Pelabuhan penyeberangan dan bandara dipenuhi pemudik, sementara terminal bus nyaris tak pernah sepi. Survei Kementerian Perhubungan 2025 mencatat sekitar 146,48 juta orang diprediksi melakukan perjalanan mudik.
Mayoritas memilih mobil pribadi, disusul bus, kereta api, dan pesawat udara. Dalam laporan mudik Lebaran 2025, Republika menggambarkan arus pulang ini bukan sekadar mobilitas musiman, melainkan fenomena sosial besar yang terus berulang dan mengakar kuat menjadi kultur dalam kehidupan bangsa.
Tingginya angka pemudik tersebut bukan sekadar angka statistik transportasi. Proses mudik menandai adanya sebuah gerak kolektif nasional. Jutaan orang lintas usia, lintas kelas sosial, dan wilayah rela menghadapi kemacetan, kelelahan, bahkan risiko keselamatan demi satu tujuan yang sama: yaitu pulang. Setiap Lebaran, Indonesia seolah bergerak serempak, menunjukkan bahwa mudik bukan hanya soal logistik dan ekonomi, tetapi juga menyentuh dimensi yang lebih dalam: emosi, identitas, dan spiritualitas manusia.
Fenomena mudik kerap dibingkai sebagai masalah tahunan: kemacetan panjang, kecelakaan lalu lintas, lonjakan harga, hingga beban ekonomi keluarga. Namun, jika ditilik lebih jauh, mudik menyimpan makna yang jauh melampaui problem teknis tersebut. Mudik juga merupakan peristiwa psiko-religi yaitu sebuah perjalanan yang bekerja sebagai mekanisme pemulihan jiwa sekaligus penguatan iman.
Dari perspektif psikologi, mudik dapat dipahami sebagai bentuk regulasi emosi. James J. Gross menjelaskan bahwa manusia secara aktif mengatur emosinya dengan memilih, memodifikasi, atau memaknai situasi tertentu untuk menurunkan stres dan menjaga keseimbangan afektif. Gagasan inilah yang menjadi dasar pernyataan bahwa individu mencari situasi yang menenangkan—seperti mudik—sebagai strategi regulasi emosi.
Setelah berbulan-bulan hidup dalam tekanan kerja, kompetisi ekonomi, dan keterasingan sosial di kota, mudik menyediakan ruang psikologis yang menenangkan. Kampung halaman menghadirkan suasana familiar, ritme hidup yang lebih lambat, serta relasi sosial yang hangat an semua itu memberikan kontribusi pada penurunan kecemasan dan kelelahan mental.
Selain teori tersebut, mudik juga sejalan dengan teori attachment atau kelekatan. Teori yang dikembangkan Bowlby (1969) ini menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan biologis dan emosional untuk mencari figur kelekatan (attachment figures) yang biasanya orang tua atau keluarga yang dijadikan sebagai secure base (basis aman) dan safe haven (tempat berlindung).
Dengan “pulang”, maka hal itu menjadi daya tarik emosional yang begitu kuat. Pertemuan dengan figur signifikan seperti orang tua, kerabat dan teman sepermainan bukan sekadar nostalgia, melainkan proses psikologis untuk meneguhkan identitas diri. Seseorang diingatkan bahwa dirinya bukan semata pekerja, jabatan, atau peran sosial, melainkan bagian dari jejaring relasi yang bermakna.
Dalam konteks Islam, mudik memiliki resonansi religius yang mendalam. Idul Fitri dipahami sebagai momentum kembali ke fitrah, dan mudik menjadi simbol konkret dari perjalanan tersebut. Sungkeman, saling memaafkan, takbiran, dan ziarah kubur merupakan ritual yang mengintegrasikan emosi dengan spiritualitas. Dalam psikologi, ritual berfungsi sebagai sarana meaning-making—proses memberi makna pada pengalaman hidup. Permohonan maaf bukan sekadar formalitas budaya, melainkan mekanisme pelepasan emosi negatif seperti rasa bersalah, dendam, dan penyesalan.
Dari sudut pandang psikologi positif, mudik juga berkontribusi pada pembentukan resiliensi yaitu kemampuan individu dan komunitas untuk bertahan dan bangkit dari tekanan. Norman Garmezy (1970) dalam teori resiliensinya menyatakan bahwa keluarga, relasi social memungkinkan individu tetap adaptif. Pertemuan lintas generasi selama lebaran membuka ruang transfer nilai: kesabaran, keteguhan, kesederhanaan, dan rasa syukur yang hal ini membuat orang tetap adaptif terhadap lingkungan.
Cerita hidup orang tua dan kakek-nenek menjadi narasi ketahanan yang memperkaya daya juang generasi muda. Di tengah dunia modern yang serba cepat dan individualistik, mudik mengingatkan bahwa ketahanan manusia tumbuh dalam relasi, bukan dalam kesendirian.
Menariknya, mudik bersifat kolektif dan inklusif. Dalam mudik, semua bergerak dengan motif yang sama yaitu pulang dan menyambung ikatan Kembali. Seluruh kalangan mulai anak sampai orang tua, mulai buruh hingga pejabat melakukan hal yang sama. Dalam psikologi sosial, pengalaman emosional yang dialami bersama dalam skala besar berfungsi memperkuat kohesi sosial. Mudik, dalam pengertian ini, menjadi ritual nasional yang mempertemukan dimensi personal, sosial, dan spiritual secara bersamaan.
Karena itu, memandang mudik semata sebagai problem musiman yang sarat persoalan sosial adalah penyederhanaan makna. Mudik justru dapat dibaca sebagai terapi sosial dan spiritual massal yang nyaris tak dimiliki bangsa lain. Melalui mudik, individu menata ulang emosi, meneguhkan kembali identitas diri, serta memperdalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Bahkan kelelahan perjalanan kerap dimaknai sebagai bagian dari pengorbanan, yang dalam perspektif religius memiliki nilai spiritual tersendiri.
Pada akhirnya, mudik mengajarkan bahwa pulang bukan sekadar berpindah tempat, melainkan kembali menjadi manusia seutuhnya. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, mudik mengingatkan kita bahwa ketenangan jiwa tidak selalu ditemukan dengan melaju lebih cepat, tetapi dengan berhenti sejenak—pulang ke keluarga, ke nilai-nilai, dan kepada Tuhan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
1


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)












