PT Vale Catat Laba Bersih Naik 85 Persen pada Kuartal I 2026

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk mencatat kinerja keuangan yang solid pada triwulan pertama 2026 meski produksi nikel matte mengalami penurunan. Perseroan membukukan laba bersih sebesar 43,6 juta dolar AS atau naik 85 persen secara kuartalan, ditopang kenaikan harga nikel dan efisiensi operasional.

Produksi nikel matte pada periode tersebut tercatat sebesar 13.620 metrik ton, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan strategi pemeliharaan terencana, termasuk pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan rampung pada semester pertama 2026.

Di sisi pendapatan, PT Vale meraih 252,7 juta dolar AS dengan EBITDA sebesar 80,1 juta dolar AS, meningkat 29 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Kinerja ini didorong oleh harga jual rata-rata nikel matte yang naik menjadi 14.213 dolar AS per ton.

Perseroan juga mulai memperkuat diversifikasi bisnis dengan mengoperasikan tiga blok tambang sekaligus, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Pada awal 2026, PT Vale mencatat penjualan perdana bijih nikel limonit dari Pomalaa, yang menjadi langkah penting dalam memperluas portofolio komersial.

Dari sisi biaya, biaya tunai produksi nikel matte tercatat 10.382 dolar AS per ton, masih dalam kategori kompetitif meski sedikit meningkat akibat kenaikan harga input energi. Perseroan menargetkan efisiensi lebih lanjut melalui peningkatan volume produksi, khususnya dari blok Pomalaa.

CEO dan Presiden Direktur PT Vale, Bernardus Irmanto, mengatakan perseroan tetap mampu menjaga margin positif di tengah tantangan industri.

“Di saat yang sama, kami memperluas portofolio komersial melalui dimulainya penjualan limonit dari Pomalaa, yang memperkuat diversifikasi pendapatan dan keberlanjutan bisnis,” ujarnya.

Selain itu, PT Vale juga memperkuat strategi keberlanjutan dengan menandatangani fasilitas Sustainability-Linked Loan senilai 750 juta dolar AS, yang disebut sebagai yang pertama di sektor pertambangan Asia Tenggara.

Ke depan, perseroan optimistis kinerja akan terus tumbuh seiring tren kenaikan harga nikel global serta peningkatan volume produksi yang diharapkan mampu mendorong margin dan efisiensi operasional.

Read Entire Article
Food |