Rahasia Ibrahim Melepas Dunia untuk Menemukan Tuhan

10 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada saat dalam hidup ketika manusia harus berdiri sendirian di hadapan arus besar tradisi, kebiasaan, bahkan keyakinan yang diwariskan turun-temurun. Tidak mudah. Sebab sering kali yang paling berat untuk ditinggalkan bukanlah kesalahan itu sendiri, melainkan rasa nyaman karena “semua orang juga melakukannya.”

Di situlah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdiri. Bukan sebagai pemberontak yang kasar, tetapi sebagai jiwa yang bening. Ia mencintai ayahnya, mengenal kaumnya, hidup bersama mereka, tetapi hatinya tidak sanggup tunduk kepada sesuatu yang tidak benar.

Allah mengabadikan momen itu dalam Alquran Surah Az-Zukhruf ayat 26:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦٓ إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ

Wa iż qāla ibrāhīmu liabīhi wa qaumihī innanī barāum mimmā ta‘budūn

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah.”

Kalimat itu terdengar tegas, tetapi sesungguhnya lahir dari perjalanan batin yang panjang. Ibrahim tidak sedang membenci manusia. Ia hanya tidak ingin jiwanya dipenuhi patung-patung yang membatu: kesombongan, ketakutan, tradisi tanpa cahaya, dan keyakinan yang kehilangan makna.

Dalam tafsir Mafātīḥ al-Ghayb, Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa sikap “berlepas diri” Nabi Ibrahim bukan sekadar penolakan terhadap berhala fisik, tetapi juga penolakan terhadap segala bentuk ketergantungan hati selain kepada Allah. Menurut Ar-Razi, tauhid sejati dimulai ketika hati tidak lagi menggantungkan keselamatan, kemuliaan, dan harapan kepada makhluk.

Karena itu Ibrahim tidak hanya menghancurkan patung dengan tangannya, tetapi terlebih dahulu menghancurkan “berhala batin” di dalam dirinya.

Kadang manusia memang memerlukan keberanian untuk berkata, “Tidak.” Tidak kepada kebiasaan yang menjauhkan hati dari Tuhan. Tidak kepada sesuatu yang diwariskan tanpa pernah dipertanyakan dengan nurani.

Namun Ibrahim tidak berhenti pada penolakan. Setelah menyingkirkan segala yang palsu, ia menuju satu cahaya yang hakiki.

Allah melanjutkan dalam Surah Az-Zukhruf ayat 27:

إِلَّا ٱلَّذِى فَطَرَنِى فَإِنَّهُۥ سَيَهْدِينِ

Illallażī faṭaranī fa innahū sayahdīn

“Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menciptakanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

Di sinilah tauhid terasa begitu hangat. Bukan sekadar konsep teologis yang kering, melainkan hubungan paling intim antara makhluk dan Penciptanya.

Ibrahim seperti seorang musafir malam yang memadamkan semua lampu palsu agar dapat melihat satu matahari yang sejati. “Yang menciptakanku...” Betapa lembut pengakuan itu.

Read Entire Article
Food |