
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syah Amelia Manggala Putri, S.EI.,M.E.I (Dosen Program Studi Ekonomi Syariah, FSIP Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
Ramadhan selalu menghadirkan dua suasana: masjid yang khusyuk dan pasar yang ramai. Di satu sisi kita belajar menahan hawa nafsu, di sisi lain antrean belanja justru semakin panjang. Paradoks ini menyimpan pelajaran ekonomi penting. Tujuan puasa adalah takwa, dan salah satu wujud takwa adalah pengendalian diri—termasuk dalam konsumsi.
Setiap menjelang Ramadhan hingga Idul Fitri, harga kebutuhan pokok cenderung naik. Secara ekonomi, hal ini logis: ketika permintaan meningkat sementara pasokan relatif tetap, harga terdorong naik (demand-pull inflation). Lonjakan konsumsi untuk berbuka, sahur, dan persiapan lebaran membuat belanja rumah tangga meningkat tajam. Namun pertanyaannya, apakah semua itu benar-benar kebutuhan, atau sekadar pelampiasan keinginan?
Islam telah memberi pedoman jelas: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan” (QS Al-A’raf: 31). Ayat ini sangat relevan di bulan Ramadhan. Ironisnya, bulan yang melatih pengendalian diri sering berubah menjadi musim belanja agresif. Dalam ekonomi syariah, konsumsi tidak hanya bertujuan memaksimalkan kepuasan, tetapi harus berbasis maslahat dan tidak merugikan orang lain. Konsumsi berlebihan bukan hanya berdampak pada anggaran rumah tangga, tetapi juga dapat mendorong kenaikan harga yang memengaruhi masyarakat luas.
Puasa adalah latihan disiplin konkret. Jika mampu menahan makan dan minum selama belasan jam, semestinya kita juga mampu menahan belanja berlebihan. Ramadhan mengajarkan manajemen permintaan: membedakan kebutuhan riil dan sekadar keinginan. Dalam perspektif syariah, manusia bukan homo economicus tanpa batas, melainkan makhluk bermoral yang mengonsumsi dalam koridor nilai. Ketika konsumsi proporsional, permintaan lebih stabil, tekanan harga terkendali, dan daya beli terjaga.
Ramadhan juga membawa dimensi redistribusi melalui zakat, infak, dan sedekah. Aliran harta dari kelompok mampu kepada yang membutuhkan membantu menjaga keseimbangan daya beli. Kelompok atas menahan konsumsi berlebih, sementara kelompok bawah memperoleh tambahan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Sering kali nilai spiritual berhenti di masjid dan tidak sampai ke pasar. Kita khusyuk saat tarawih, tetapi impulsif di pusat perbelanjaan. Padahal inflasi bukan hanya persoalan kebijakan negara, melainkan akumulasi jutaan keputusan konsumsi rumah tangga. Setiap pilihan membeli, menyimpan, atau menimbun memiliki dampak agregat.
Ramadhan mengajarkan bahwa pengendalian nafsu adalah jalan menuju ketakwaan. Ekonomi syariah menegaskan pentingnya keseimbangan dan kemaslahatan sosial. Mungkin menjaga stabilitas harga tidak selalu dimulai dari ruang rapat bank sentral, tetapi dari keputusan sederhana di meja berbuka: membeli secukupnya dan berbagi selebihnya.

13 hours ago
5

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)












