REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menjelang magrib di sebuah sudut Jakarta Selatan, aroma nasi hangat dan kuah lauk yang mengepul berbaur dengan lantunan ayat suci. Di pelataran pesantren, para santri duduk bersila, sebagian memegang kitab, sebagian lagi menanti adzan dengan mata berbinar.
Ramadhan kembali datang, dan di tangan para santri, bulan suci itu menjelma menjadi panggung sunyi tempat tradisi, ilmu, dan pengabdian bertemu dalam satu tarikan napas panjang.
Di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Ciganjur, suasana itu terasa begitu hidup. Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar Takjil Pesantren yang dirangkai dengan talkshow dan Ngaji Bareng Santri, bagian dari program Ramadhan Direktorat Pesantren bertajuk “San Trend Ramadhan”. Bukan sekadar berbagi makanan berbuka, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan gagasan tentang masa depan santri.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menyampaikan pesan yang menggelitik cakrawala berpikir para santri. Bagi dia, santri masa kini tidak cukup hanya tafaqquh fiddin, mendalami agama hingga ke akar, tetapi juga perlu memahami ketatanegaraan dan kebangsaan. Dunia modern, dengan segala kompleksitasnya, membutuhkan santri yang mampu berdiri di pos-pos strategis, tanpa kehilangan jati diri.
Pesan itu seperti menemukan gaungnya ketika Pengasuh pesantren, Said Aqil Siradj, berbicara tentang kekayaan tradisi kitab kuning. Di ruang-ruang belajar yang mungkin tampak sederhana, bersemayam konstruksi keilmuan yang kokoh: bayan ilahi yang bersumber dari wahyu, bayan nabawi yang merujuk pada sunnah, dan bayan aqli yang tumbuh dari ijtihad ulama, melahirkan ijma dan qiyas sebagai metode istinbath hukum.
Pesantren, dalam tutur Kiai Said, bukan hanya lembaga pendidikan, melainkan peradaban kecil yang diwariskan lintas generasi. Di sana, teks klasik tidak sekadar dibaca, tetapi dihidupkan; tradisi tidak sekadar dihafal, tetapi dirawat.
Direktur Pesantren Kemenag, Basnang Said, menegaskan bahwa tema “Dari Pesantren untuk Dunia: Proyeksi Santri Masa Depan” bukanlah slogan kosong. Ia adalah arah. Santri masa depan dibayangkan sebagai pribadi yang akarnya menghunjam kuat pada khazanah klasik, namun cabangnya lentur menjangkau langit zaman, terbuka pada perubahan, piawai membaca realitas, sekaligus teguh dalam komitmen kebangsaan.
Tradisi santri itu tidak hanya berdenyut di halaman pesantren besar. Di pesisir Jakarta Utara, di atas riak air Kamal Muara, suara hafalan Alquran mengalun dari sebuah bangunan sederhana yang berdiri di atas perairan. Di sanalah Rumah Tahfiz Apung menjadi saksi ketekunan 65 santri menghafal ayat-ayat suci di tengah keterbatasan.
Pada Ramadhan ini, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menyalurkan Paket Ramadhan Bahagia kepada para santri Rumah Tahfiz Apung. Deputi II Baznas Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Imdadun Rahmat, menyebut dedikasi mereka sebagai perjuangan untuk meninggikan kalimat Allah, li i’laai kalimatillah.
Namun, sebagaimana pesan yang disampaikan, santri juga diajak untuk memandang dunia lebih luas: menguasai ilmu umum, memahami teknologi, merancang masa depan dengan tekad yang tak kalah kuat dari hafalan yang mereka jaga. Bantuan pangan itu bukan sekadar logistik; ia adalah peneguhan bahwa perjuangan sunyi para penghafal Alquran tidak berjalan sendiri.
sumber : Antara

7 hours ago
5


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)












