Satu Abad Jam Gadang: Apa Kata Akademisi dan Jurnalis Tentangnya?

3 hours ago 5

Image Daratullaila Nasri

Edukasi | 2026-07-27 17:13:53

Daratullaila Nasri

Dosen Program Studi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Prof. Gusti Asnan dan Suryadi pada Kegiatan Seminar Nasional "Mengulik Narasi Sejarah 100 Tahun Jam Gadang, Kamis 23 Juli 2026 (Dokumentasi pribadi)

Para wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat, belum lengkap rasanya kalau belum mengunjungi Kota Bukittinggi. Bukittinggi dengan hawanya yang sejuk dan pemandangan nan indah membuat orang-orang betah di sana. Dan perjalanan ke Bukittinggi pun terasa belum sempurna jika belum melihat dan mengabadikan Jam Gadang dengan kamera. Bagi sebagian orang, berfoto dengan latar Jam gadang menjadi penanda bahwa mereka benar-benar pernah menginjakkan kaki di Bukittinggi.

Pengalaman itu saya rasakan ketika mendampingi seorang teman dari Jakarta, Rahmat, yang sedang melakukan riset di Kabupaten Lima Puluh Kota. Karena riset di Lima Puluh Kota, tentu kami menginap dilokasi tersebut. Saat penelitian selesai, ia mengajukan permintaan untuk menginap satu malam di Bukittinggi, sebelum kembali ke Jakarta. Saya sempat bertanya, mengapa harus ke Bukittinggi, padahal penelitian sudah selesai.

Dengan antusias ia menjawab, “saya belum penah melihat Jam Gadang dari dekat. Saya ingin berfoto di sana dan mengirimkannya kepada teman-teman di kantor. Biar mereka ikut panas.”

“iiiih segitunya,” saya membalas penjelasannya sambil tertawa. Bagi saya, Bukittinggi dan jam Gadang suatu yang biasa karena saya orang Agam (hanya butuh waktu 10 menit dari rumah saya ke pusat kota), yang saban hari bisa melihatnya. Namun, berbeda dengan teman saya itu. Ia sudah melewati Kota Bukittinggi, rugi dong jika ia tidak menyempatkan mampir melihat Jam Gadang. Alasan teman saya itu sederhana, ingin membuktikan pada teman-temanya di Jakarta bahwa ia telah sampai di Kota Bukittinggi.

Dari obrolan itu saya menyadari, bahwa daya tarik Jam Gadang telah melampaui fungsinya sebagai penunjuk waktu. Bagi orang-orang di luar Sumatera Barat, Jam Gadang adalah tujuan perjalanan, objek foto, dan sekaligus kebangaan yang ingin dipamerkan kepada orang lain. Itulah sebabnya Jam Gadang sangat dikenal masyarakat luas.

Dibalik popularitasnya, Jam Gadang memiliki cerita yang sudah lama hidup dalam ingatan saya atau mungkin juga dalam ingatan orang Bukittinggi dan Agam sekitarnya. Pertama, Jam Gadang adalah sebuah hadiah dari Ratu Wilhelmina. Kedua, kisah tetang penulisan angka empat dengan bentuk IIII, yang dianggap sebagai keunikan jam tersebut. Cerita tersebut menarik bagi saya yang masih awam dunia sejarah pada masa itu. Karena sudah diwarisi turun temurun, cerita itu diyakini kebenarannya. Terlebih lagi, cerita itu diabadikan dalam buku populer, media, hingga media sosial. Lama-kelamaan, cerita itu diterima sebagai fakta. Padahal, belum tentu semuanya memiliki dasar sejarah yang akurat.

Rasa ingin tahu tetang sejarah Jam Gadang itulah yang membuat saya mengikuti Seminar Nasional “Mengulik Narasi Sejarah 100 Tahun Jam gadang” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas pada tanggal 23 Juli 2026. Seminar tersebut tidak hanya dalam rangka memperingati satu abad berdiri Jam Gadang, tetapi juga menjadi ruang akademik untuk “mengulik” (meminjam istilah yang dipakai Suryadi) kembali beragam narasi yang selama ini berkembang di tengah masyarakat. Menariknya, seminar ini menghadirkan sejarawan, peneliti dan juga wartawan senior Harian Singgalang yang selama bertahun-tahun menelusuri arsip-arsip kolonial.

Presentasi yang disampaikan oleh Khairul Jasmi melalui ruang zoom menambah referensi saya bahwa tidak hanya dua cerita tetang Jam gadang yang berkembang di tengah masyarakat. Akan tetapi, ada empat mitos (istilah yang digunakan Khairul Jasmi), dua di antara yang sudah saya sebutkan adalah 1) Jam Gadang dibangun tanpa besi dan semen, tetapi hanya dengan kapur, pasir dan putih telur. Mengenai putih telur ini, Prof. Gusti Asnan sempat berkelakar, “Kuning telurnya dikemanakan? Apa mungkin ini yang menginspirasi orang Minang membuat gulai tambusu.” 2) “Mesin jamnya konon hanya ada dua di dunia, satu di Bukittinggi dan satu lagi ada pada Big Ben di London” (Jasmi: 2026).

Oleh Khairul Jasmi, keempat mitos yang berkembang tersebut diperiksa keakuratannya dengan referensi koran sezaman, dokumen resmi pemerintah kolonial, laporan teknik sipil Universitas Bung Hatta yang pernah mengkaji konstruksi bangunan Jam Gadang, hingga arsip industri Semen Padang. Hasilnya, keempat narasi tersebut tidak memperoleh dukungan dari bukti sejarah maupun bukti material. Berikut hasil studi yang dikemukakan Jamsi: Pertama, Jam Gadang dibangun tahun 1926, pada tahun itu Semen Padang sudah lama beroperasi dan produksinya terus meningkat. Suatu hal yang mustahil, jika bangunan pemerintah dibangun tanpa menggunakan semen, sementara materialnya berlimpah di wilayah itu. Kedua, angka empat pada jam itu bukan suatu kesalahan, tetapi dalam dunia horologi, penggunaan IIII justru lebih tua daripada bentuk IV dan hal itu masih dapat dijumpai pada jam klasik hingga sekarang. Ketiga, klaim bahwa Jam Gadang hanya memiliki satu saudara kembar, yaitu Big Ben di London, tidak benar karena keduanya berasal dari pabrik, negara, dan periode pembuatan yang berbeda. Keempat, Jam Gadang sebagai hadiah Ratu Wilhelmina, baik Suryadi maupun Khairul Jasmi tidak menemukan satu pun bukti dari surat kabar yang menyebutkan bahwa bangunan itu sebuah hadiah. Melainkan, yang ditemukan Suryadi dalam surat kabar Sumatra-Bode, yakni pemberitaan peresmian Jam Gadang pada 25 Juli 2027. Tanggal peresmian itu tentu perlu menjadi kajian ulang bagi pemerintah kota Bukittinggi untuk menetapkan hari jadi Jam Gadang.

Dr. Suryadi yang menetap di sarang data, Leiden itu, melakukan penelusuran surat kabar kolonial dan arsip Belanda mencoba menyusun kembali lini masa pembangunan Jam Gadang. Dari penelusuranya diketahui bahwa pembangunan Jam Gadang bukanlah proyek yang muncul tiba-tiba. Akan tetapi, pembangunan itu direncanakan dan dibuat panitia khusus yang dikenal dengan Comite Djam Gadang. Dana pembangunan dihimpun melalui berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari pasar malam, pacu kuda, pacu jawi, pertandingan sepak bola, hingga pameran. Menurut Suryadi, temuan ini memperlihatkan bahwa masyarakat Fort de Kock memiliki keterlibatan nyata dalam proses pembangunan menara tersebut (Suryadi, 2026).

Prof. Gusti Asnan, Guru Besar Sejarah Universitas Andalas mengingatkan bahwa historiografi Jam Gadang lebih banyak dibangun melalui narasi populer daripada hasil penelitian sejarah. Menurut beliau, berbagai kisah mengenai Jam Gadang diwariskan melalui tuturan lisan, buku-buku populer, media massa, hingga media sosial, sedangkan penelitian akademik baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir ini. Prof. Gusti bahkan menyebutkan momentum peringatan 100 tahun jam gadang sebagai titik penting munculnya berbagai tulisan yang berusaha mendekonstruksi narasi lama dan membangun kembali sejarah Jam Gadang berdasarkan kritik sumber.

Apa yang disampaikan para akademisi dan jurnalis dalam seminar tersebut membawa pesan besar daripada meluruskan mitos yang berkembang. Mereka mengingatkan kita bahwa sejarah bukanlah kumpulan cerita yang terus diwariskan tanpa diuji. Sejarah sebagai sebuah disiplin ilmu yang membutuhkan pembuktian melalui arsip, dokumen, foto, laporan sezaman, serta kritik terhadap sumber-sumber yang digunakan. Kepopuleran sebuah cerita tidak mungkin menjadi tolok ukur sebagai fakta sejarah.

Seminar yang digagas Prodi Ilmu Sejarah, UNAND ini memiliki arti penting untuk memaknai sejarah publik. Sejarah publik perlu diperbarui ketika sumber-sumber baru ditemukan. Jam Gadang tetap menjadi ikon Kota Bukittinggi. Pesonanya tidak akan berkurang ketika mitos-mitos lama itu dikaji ulang. Kajian itu pun akan memberikan dampak yang positif bagi generasi mendatang dalam memahami warisan budaya di negerinya sendiri.

Referensi:

Asnan, Gusti. “Jam Gadang dan Re-Rekonstruksi sejarahnya.” Disajikan pada “Seminar Nasional ‘Mengulik Narasi Sejarah 100 Tahun Jam Gadang’ di Padang, 23 Juli 2026)

Jasmi, Khairul. 2026. “Menelusuri Empat Mitos Jam Gadang: Uji Sumber Sezaman dan Bukti Material atas Menara jam Ford de Kock, 1926”. Disajikan pada “Seminar Nasional ‘Mengulik Narasi Sejarah 100 Tahun Jam Gadang’ di Padang, 23 Juli 2026)

Suryadi. 2026. “Jam Gadang: Simpul-Simpul Penting Lini Massa.” Disajikan pada “Seminar Nasional ‘Mengulik Narasi Sejarah 100 Tahun Jam Gadang’ di Padang, 23 Juli 2026)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Food |