Sekjen PDIP Usulkan Presiden Prabowo Tiru Cara Soekarno Atasi Konflik Global

7 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dosen Tetap Universitas Bung Karno (UBK) sekaligus Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menekankan pemikiran geopolitik proklamator RI Soekarno (Bung Karno), sebagai instrumen arah diplomasi luar negeri dan pertahanan Indonesia. Hasto mengusulkan Presiden Prabowo Subianto menggunakan instrumen itu.

Hal tersebut disampaikan Hasto ketika memberikan kuliah umum ‘Pemikiran Geopolitik Bung Karno, dalam rangka Ulang Tahun Universitas Bung Karno ke-27’, di Aula Ir. Soekarno, UBK, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Hasto memandang kerangka berpikir Bung Karno sangat relevan kalau Presiden Prabowo ingin memposisikan Indonesia sebagai fasilitator perdamaian di kancah global. Hasto optimistis Indonesia dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah.

"Kalau Presiden Prabowo berkehendak menjadikan Indonesia sebagai peace facilitator untuk masalah Timur Tengah, ini (Siklus Geopolitik Soekarno) bisa dipakai," kata Hasto dalam kegiatan itu. 

Hasto menyatakan pemikiran geopolitik Bung Karno merupakan siklus sistematis. Menurutnya, siklus ini dapat digunakan menghadapi berbagai dinamika geopolitik kawasan maupun global secara terukur.

Pertama, siklus dimulai dengan merumuskan kepentingan nasional yang jelas. Kedua, melangkah ke arah keterlibatan global dengan membangun hukum internasional baru melalui pendekatan diplomasi luar negeri dan kerja sama internasional.

Ketiga, memperkuat aspek tersebut dengan diplomasi pertahanan guna membangun kekuatan penangkal (deterrent effect) yang efektif.

"Siklus ini terus berputar. Kita menciptakan hukum internasional dengan pendekatan diplomasi kita, membangun kerja sama internasional, hingga akhirnya diplomasi pertahanan strategis memperkuat postur pertahanan kita," ucap Hasto.

Menurut Hasto, pendekatan berbasis keilmuan geopolitik ini tidak hanya dapat diterapkan di Timur Tengah, tetapi juga dalam membantu meredakan konflik di Semenanjung Korea dan ketegangan di Selat Taiwan.

Hasto mencontohkan bagaimana keterlibatan aktif Indonesia dalam meredakan ketegangan internasional harus tetap berlandaskan pada kepentingan nasional. 

"Kita mau menyelesaikan konflik di Semenanjung Korea, kita bisa menggunakan siklus ini. Melalui langkah diplomasi tersebut, kepentingan nasional kita juga diuntungkan. Misalnya, dari Korea Selatan kita bisa mendapat berbagai transfer teknologi untuk mempercepat industri kita, sementara dari Korea Utara kita bisa membangun pemahaman strategis," ucap Hasto.

Read Entire Article
Food |