Sumut Targetkan Tiga Daerah Bebas Pasung ODGJ, Sediakan Layanan Jemput Gratis

5 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN, – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menargetkan tiga kabupaten/kota, yakni Asahan, Tanjung Balai, dan Labuhanbatu Utara (Labura), menjadi daerah bebas pasung orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Program ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat penanganan ODGJ sekaligus menghapus praktik pemasungan yang masih terjadi di tengah masyarakat.

Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof Dr Muhammad Ildrem Sumut, Sri Suriani Purnamawati, mengungkapkan bahwa tim akan mulai turun ke tiga daerah di pesisir timur Sumut itu pada pekan ini. Penurunan tim bertujuan untuk menangani ODGJ yang masih dipasung oleh keluarganya.

"Minggu ini kita coba turun ke daerah mengatasi masyarakat yang mengalami gangguan kejiwaan atau ODGJ yang dipasung pihak keluarganya," ujar Sri dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Kamis.

Layanan Transportasi Khusus dan Rehabilitasi

Sri menjelaskan, praktik pemasungan kerap dilakukan keluarga agar ODGJ tidak mengganggu atau meresahkan warga sekitar. Padahal, tindakan tersebut dilarang dan tidak dibenarkan secara hukum maupun kemanusiaan. Untuk mengatasi hal ini, program bebas pasung didukung oleh layanan transportasi khusus yang akan menjemput dan mengantar pasien ke RSJ Prof Dr Muhammad Ildrem.

Setelah tiba di rumah sakit, pasien akan mengikuti program rehabilitasi psikososial. Program ini dilaksanakan bersama Rumah Sakit Umum Haji Medan dan rumah sakit umum daerah di kabupaten/kota setempat. Tujuannya adalah membangun kemandirian pasien dengan membentuk kebiasaan positif dalam aktivitas sehari-hari.

"Rehabilitasi psikososial itu penting untuk ODGJ, karena bertujuan membentuk kebiasaannya setiap hari dia melakukan aktivitas apa saja. Ini menjadi strategi kemandirian pasien, makanya kita berikan layanan ini di mana pasien pagi diantar, dan sore dijemput keluarganya,” kata Sri.

Kegiatan Produktif dan Pemasaran Karya Pasien

Selama mengikuti rehabilitasi, pasien menjalani berbagai kegiatan pembinaan. Kegiatan tersebut meliputi pembinaan kerohanian, pengajian, melukis, hingga keterampilan membuat sabun cuci piring, eco enzyme, dan karbol. Hasil karya pasien ODGJ ini bahkan dipamerkan dan dipasarkan di stan RSJ Prof Dr Muhammad Ildrem dalam Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 yang berlangsung sejak 3 Juli hingga 2 Agustus 2026.

Tak hanya itu, pasien juga diberikan pelatihan bercocok tanam sayuran seperti kangkung dan pakcoi, serta budidaya magot. "Karena di RSJ ada instalasi gizi memiliki limbah organik, kami buat magot, dan beternak ayam petelur yang satu kandang 15 ekor,” ujar Sri menambahkan.

Melalui program rehabilitasi psikososial ini, pasien ODGJ diharapkan mampu membangun kebiasaan positif selama 20 kali kunjungan. Dengan demikian, mereka dapat kembali beraktivitas dan berkomunikasi dengan keluarga. Sri menegaskan bahwa stigma yang menyebut ODGJ tidak bisa melakukan apa-apa adalah keliru.

"Stigma kita selama ini, ODGJ itu tidak bisa melakukan apa-apa, itu tidak benar. Gangguan jiwa tidak mengubah, dan tidak mengurangi kecerdasan. Sifat agresif dan halusinasinya bisa ditekan dengan obat-obatan, sehingga mereka bisa beraktivitas kembali,” tutur Sri.

Cakupan Program dan Akses Gratis

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sumut, Hery Valona Bonatua Ambarita, menyampaikan bahwa hingga saat ini sebanyak 186 ODGJ di 33 kabupaten/kota se-Sumut telah mendapatkan penanganan. Program ini merupakan bagian dari Universal Health Coverage (UHC), Program Berobat Gratis (Probis), dan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Gubernur Sumut, sehingga masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan jiwa tanpa biaya.

“Masyarakat yang terpasung kita bawa ke RS Jiwa, seperti di Tanjung Balai dari lima orang terpasung, kini tinggal dua orang lagi karena keluarganya belum bersedia. Padahal, ODGJ harus dibawa ke RS Jiwa untuk mendapat pelayanan yang standar,” kata Hery.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Food |