Suramnya Idul Adha di Gaza, Warga Tenggelam dalam Duka dan Kemiskinan

15 hours ago 9

Pengungsi Palestina melaksanakan sholat Idul Adha di samping reruntuhan Masjid Al-Huda di Khan Younis, Jalur Gaza, Rabu (27/5/2026). Warga Gaza merayakan hari raya Idul Adha tanpa adanya penyembelihan hewan kurban di tengah kelangkaan pasokan, lonjakan harga yang gila-gilaan, serta puing-puing kehancuran pasca perang. Blokade dan hancurnya banyak peternakan akibat perang membuat pasokan hewan kurban sangat terbatas, sementara harganya melonjak hingga tak lagi terjangkau bagi sebagian besar warga.

REPUBLIKA.CO.ID,GAZA — Warga jalur Gaza menghadapi Idul Adha 1447H/2026 dalam suasana yang suram di tengah agresi Israel yang terus berlangsung. Di berbagai wilayah Gaza, gema takbir Idul Adha terdengar bersamaan dengan tangis kehilangan, kemiskinan, dan kehidupan di tenda-tenda pengungsian.

Keluarga Baroud di Kamp Pengungsi Shati, Kota Gaza, menjadi salah satu potret duka tersebut. Pada hari raya sebelumnya, keluarga besar itu masih berkumpul, saling mengunjungi rumah kerabat, berbagi daging kurban, dan mengabadikan momen melalui foto keluarga tahunan. Kini, tradisi itu tinggal kenangan.

Walaa Baroud memandangi foto keluarga terakhir mereka. Dari 22 orang yang ada di dalam bingkai foto itu, 13 di antaranya telah tewas akibat serangan Israel. Lebih dari 80 anggota keluarga besar Baroud dilaporkan meninggal dunia selama agresi berlangsung.

Beberapa hari menjelang Idul Adha, keluarga itu kembali kehilangan anggota keluarganya, Baha Baroud, yang tewas dalam serangan Israel.“Perang belum berhenti merenggut nyawa orang-orang terkasih kami, dan kami tidak pernah menyangka akan membuka tenda duka cita selama gencatan senjata,” kata Walaa dilansir Al Jazeera, Jumat (29/6/2026).

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, agresi Israel telah menewaskan hampir 73 ribu warga Palestina di Gaza. Di kawasan lain Gaza, seorang perempuan lanjut usia, Hajja Shama al-Zorbatli, menjalani Idul Adha di sebuah tenda kecil di trotoar. Ia kehilangan rumah dan suaminya akibat perang.“Idul Fitri tidak dirayakan di dalam tenda,” ujar perempuan berusia sekitar 70 tahun itu.

Di dalam tendanya tidak ada listrik, televisi, internet, maupun telepon. Ia bahkan tidak mengetahui hari dan tanggal saat ini. Saat melihat tayangan jamaah haji di Makkah, air matanya pecah.“Saya belum pernah memasuki Rumah Allah. Keinginan saya adalah menunaikan ibadah haji. Tetapi haji macam apa ini jika saya bahkan tidak bisa menemukan makanan untuk dimakan?”kata dia.

Read Entire Article
Food |