Teknik Pareto: Rahasia Mengapa Pembelajaran di Gontor Terasa Cepat Sukses

2 hours ago 3

Oleh: Dadang Irsyamudin, Alumnus Gontor 2013

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- “Jika 20 persen inti pelajaran sudah cukup membuat seseorang mampu memahami dan mempraktikkan bahasa Arab, apakah 80 persen sisanya masih perlu dipelajari?”

Di era modern, kata “efektif” dan “efisien” seolah menjadi mantra baru dalam dunia pendidikan. Hampir setiap brosur kursus menawarkan janji yang mirip seperti cepat bisa, praktis, tanpa ribet, bahkan kadang terdengar terlalu muluk seperti “mahir bahasa Arab dalam semalam”.

Di satu sisi, manusia memang semakin dituntut bergerak cepat. Orangtua ingin anaknya segera bisa. Pelajar menginginkan hasil instan. Dunia kerja pun lebih menghargai kemampuan praktis dibanding proses panjang yang hasilnya tidak langsung terlihat.

Hal ini kemudian bergelinding di kalangan masyarakat awam dan memicu lahirnya pertanyaan yang cukup sensitif dalam tradisi pengajaran bahasa Arab:

“Kalau tujuan akhirnya memahami bahasa Arab, mengapa banyak pesantren mengharuskan santrinya menghafal ribuan bait syair terlebih dahulu? Kenapa tidak menggunakan metode yang lebih praktis?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh perdebatan panjang tentang filosofi belajar “apakah pendidikan harus menekankan kedalaman proses, atau efektivitas hasil?”

Dan menariknya, dunia pesantren memiliki jawaban yang berbeda-beda. Sebagian kalangan mempertahankan metode klasik karena menghafal nadzam bukan sekadar alat memahami ilmu. Metode tersebut merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam yang telah dijaga selama berabad-abad. Di dalamnya ada latihan kesabaran, ketekunan, adab kepada ulama, hingga penyambungan sanad intelektual yang tidak bisa diukur hanya dengan logika “cepat paham”.

Dalam tradisi ini, futuh atau terbukanya pemahaman sering diyakini bukan semata hasil kecerdasan atau efektivitas metode belajar. Ia lahir dari perpaduan antara mujahadah lahiriyah berupa kesungguhan menghadiri majelis ilmu, memahami, serta menghafalkannya dan mujahadah batiniyah berupa keberkahan hubungan spiritual antara murid, guru, dan ilmu yang dipelajari.

Namun sebagian lain melihat bahwa metode pembelajaran memang selalu berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Fokusnya bukan lagi seberapa banyak teks yang dihafal, tetapi seberapa cepat ilmu dapat dipahami lalu digunakan dalam kehidupan nyata.

Bahkan dalam sejarah Islam sendiri, usaha mempermudah pembelajaran sudah lama terjadi. Penataan mushaf Al-Qur’an menjadi 20 halaman per juz, pemberian harakat, hingga kodifikasi Makkiyah dan Madaniyah adalah bentuk ikhtiar agar ilmu lebih mudah dipahami umat. 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |