REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lebih dari 8,8 miliar barel minyak ditemukan di dekat perbatasan Arab Saudi. Saat ekspor minyak Irak terpukul oleh gejolak Timur Tengah, penemuan raksasa ini datang pada momen yang nyaris tak bisa lebih dramatis.
"Cadangan itu diperkirakan melebihi 8,8 miliar barel minyak mentah."
Pernyataan Kementerian Perminyakan Irak itu langsung mengubah perhatian pelaku energi dunia ke Gurun Najaf, wilayah tandus di barat daya Irak yang selama bertahun-tahun hanya dipandang sebagai kawasan eksplorasi potensial. Namun apa sebenarnya yang ditemukan di sana?
Ladang tersebut berada di Blok Qurnain, Provinsi Najaf, sekitar 180 kilometer dari Baghdad dan membentang di sepanjang perbatasan Irak-Arab Saudi. Luasnya mencapai 8.773 kilometer persegi, hampir setara gabungan beberapa kota besar. Di bawah hamparan pasir itulah para insinyur menemukan sesuatu yang dapat mengubah masa depan sektor energi Irak.
Temuan awal bahkan menunjukkan kualitas minyak yang menjanjikan. Pengeboran di sumur eksplorasi Shams-11 menghasilkan minyak mentah ringan dengan kapasitas produksi awal 3.248 barel per hari.
Angka itu mungkin terlihat kecil dibanding produksi nasional Irak, tetapi bagi para ahli energi, temuan pada satu sumur sering kali menjadi petunjuk adanya kekayaan jauh lebih besar di bawah permukaan. Seberapa besar sebenarnya potensi kawasan ini?
Jawabannya membuat banyak pihak mulai berhitung ulang. Irak saat ini sudah termasuk raksasa energi dunia. Sebelum ketegangan regional meningkat, negara itu memproduksi sekitar 4,5 juta barel minyak per hari dan menempati posisi produsen terbesar kedua di OPEC. Cadangan minyak terbuktinya diperkirakan mencapai 145 miliar barel, terbesar kelima di dunia.
Kini angka itu berpotensi bertambah. Penemuan baru tersebut juga datang ketika Baghdad sedang menghadapi tekanan yang tidak ringan. Konflik yang terus membayangi Timur Tengah membuat jalur perdagangan energi semakin rentan. Sekitar 90 persen ekspor minyak Irak selama ini melewati Selat Hormuz, koridor sempit yang menjadi urat nadi pasokan energi dunia, sebagaimana diberitakan Euronews pada Ahad (31/5/2026).
Apa yang terjadi jika jalur itu terganggu?
Kekhawatiran itulah yang mendorong Baghdad mempercepat proyek pipa minyak raksasa dari Basra menuju Haditha dekat perbatasan Suriah. Jalur baru tersebut dirancang memiliki kapasitas ekspor hingga 2,5 juta barel per hari, memberikan alternatif ketika jalur laut menghadapi risiko keamanan.
Namun tantangan yang dihadapi Irak tidak berhenti di sana. Data resmi menunjukkan ekspor minyak negara itu pada Maret hanya mencapai 18,6 juta barel dengan pendapatan sekitar 1,96 miliar dolar AS.
Sebulan sebelumnya, ekspor masih berada di atas 99 juta barel dengan pendapatan 6,81 miliar dolar AS. Penurunan yang sangat tajam itu menjadi pengingat betapa sensitifnya perekonomian Irak terhadap gejolak pasar energi global.

9 hours ago
8












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499312/original/081206000_1770782561-Depositphotos_132132754_XL.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509321/original/086615600_1771679962-SnapInsta.to_630114161_18162147202417018_2870114530835891224_n__1_.jpg)
