REPUBLIKA.CO,ID, JAKARTA -- Menonton konser musisi favorit masih menjadi pilihan hiburan yang diminati kalangan muda, khususnya Generasi Z. Berdasarkan laporan dari lembaga survei GoodStats pada 2025, tercatat sekitar 50 persen responden anak muda memiliki rencana untuk menonton konser musik sebanyak 2 hingga 3 kali dalam satu tahun.
Merespons fenomena ini, pakar ekonomi dari Universitas Airlangga, Prof Dr Gancar Candra Premananto, mengatakan pengaruh media sosial menjadi salah satu faktor yang mendorong antusiasme Generasi Z terhadap konser. Menurutnya, media sosial memudahkan promotor menjangkau calon penonton sekaligus mempercepat penyebaran informasi mengenai konser.
"Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi penyelenggara konser. Pengguna internet dan media sosial yang tinggi membuat informasi mengenai konser sangat cepat menyebar. Terutama di kalangan Generasi Z," kata Prof Gancar dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (25/7/2026).
Ia kemudian mengungkap tiga motif yang mendorong generasi Z membeli tiket konser, yaitu self-reward, hedonik, dan motif simbolik. Motif self-reward biasanya muncul ketika seseorang ingin memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja keras.
Sementara itu, motif hedonik mendorong individu mencari kesenangan. Lalu motif simbolik berkaitan dengan keinginan memperoleh pengakuan sosial, yang membuat sebagian orang memaksakan diri membeli tiket konser di luar kemampuan keuangan.
"Di era media sosial, motif simbolik semakin kuat karena banyak orang ingin memvalidasi status sosialnya melalui pengalaman menghadiri konser tertentu," kata dia.
Selain itu, fenomena fear of missing out (FOMO) juga menjadi tekanan sosial yang cukup besar bagi Generasi Z. Keinginan untuk mengikuti tren dan memperoleh pengakuan dari lingkungan sering kali mendorong seseorang mengambil keputusan konsumsi secara impulsif.
la mencontohkan penggunaan layanan paylater maupun pinjaman daring untuk membeli tiket konser. Menurut dia, keputusan tersebut menjadi tidak rasional apabila kemampuan membayar tidak sebanding dengan besarnya utang.
"Keputusan menjadi tidak rasional apabila kemampuan membayar tidak sebanding dengan besarnya utang. Kondisi tersebut bahkan dapat memicu kebiasaan menutup utang lama dengan pinjaman baru," ujar Prof Gancar.
Agar tetap dapat menikmati hiburan tanpa mengorbankan kesehatan finansial, Prof Gancar menyarankan Generasi Z menyusun anggaran bulanan secara disiplin. la merekomendasikan alokasi sekitar 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan sosial, 20 persen untuk hiburan, dan 10 persen untuk tabungan maupun investasi.
"Dengan perencanaan yang baik, seseorang dapat mempersiapkan keinginan menonton konser jauh-jauh hari. Sehingga tidak berubah menjadi keputusan konsumsi yang impulsif," kata dia.

4 hours ago
6






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543643/original/041077600_1775031375-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_14.33.02__1_.jpeg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510193/original/003574000_1771822191-pexels-shameel-mukkath-3421394-5817525.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559034/original/060735700_1776504757-pexels-loquellano-16123121.jpg)
