REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mungkin Anda pernah mendengar cerita tentang kerabat atau tetangga yang memilih pergi ke luar negeri, seperti Malaysia atau Singapura, untuk berobat masalah tulang atau sendi. Fenomena ini bukan hal baru. Banyak masyarakat Indonesia yang “terbang” ke negara tetangga karena merasa fasilitas di luar sana lebih maju atau karena kurangnya informasi mengenai kemampuan dokter-dokter di dalam negeri.
Rumah sakit di dalam negeri, salah satunya Siloam Hospitals Mampang, disebut sudah memiliki standar penanganan yang tidak kalah bersaing dengan pusat medis internasional. Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, mengatakan dalam memberikan layanan kesehatan, hal yang paling tidak boleh ditawar-tawar adalah hasil akhir yang dirasakan oleh pasien itu sendiri. Komitmen inilah yang membuat pihak rumah sakit terus menghadirkan teknologi terbaru dan mendukung para dokter spesialis untuk terus berkembang.
David menyoroti masih banyak masyarakat yang belum tahu bahwa rumah sakit di Indonesia saat ini sudah dilengkapi dengan peralatan medis yang sangat modern, termasuk keberadaan lima robot khusus untuk operasi penggantian sendi. Dalam penjelasannya mengenai dedikasi rumah sakit terhadap pasien, David menekankan prinsip utama yang mereka pegang teguh.
“Apapun yang kita lakukan, satu-satunya hal yang tidak kami kompromikan, satu-satunya yang kami tidak berkompromi adalah patient outcome,” ujarnya dalam Symposium Orthovolution Siloam Hospitals Mampang 2026 bertajuk “Transforming Orthopaedic Care Through Innovation” di Jakarta pada Sabtu (6/6/2026).
Melalui penyediaan fasilitas dan teknologi tersebut, David berharap ada proses edukasi yang berjalan di tengah masyarakat. Ia ingin agar media massa ikut membantu menyebarkan informasi yang benar dan didukung oleh data, sehingga masyarakat tahu bahwa mereka punya opsi medis yang sangat baik di negeri sendiri tanpa harus merasa kalah saing dengan negara tetangga.
“Semoga Indonesia terus memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan semakin baik, juga pengalaman pasien yang lebih baik,” kata dia.
Ilmu magnet ortopedi Gen Z
Dunia ortopedi di Indonesia dinilai sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan dua dekade lalu. Dulu, masyarakat umumnya mengira dokter ortopedi hanya menangani masalah patah tulang atau infeksi saja.
Saat ini ilmu ini sudah berkembang sangat luas dan memiliki sembilan subspesialisasi yang spesifik. Menariknya, bidang ortopedi kini juga menjadi salah satu magnet terbesar bagi para dokter muda dari generasi Z yang baru lulus. Kebutuhan masyarakat akan penanganan tulang dan sendi ini dinilai nyata, mulai dari anak muda yang mengalami cedera saat berolahraga rekreasi, hingga orang tua (lansia) yang mengalami masalah penurunan fungsi sendi akibat proses penuaan.
Dokter spesialis ortopedi dan subspesialis cedera olahraga, Prof Dr dr Andri Lubis, Sp.OT(K), mengatakan, penanganan pasien ortopedi tidak bisa dilakukan oleh dokter bedah sendirian. Operasi yang berjalan sukses di dalam kamar bedah selama satu atau dua jam tidak akan berarti banyak jika proses rehabilitasinya berjalan salah arah. Oleh karena itu, di Siloam Mampang menerapkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan tim kerja (teamwork) yang erat antara dokter bedah, spesialis kedokteran olahraga, tim rehabilitasi, dan dokter anestesi.
Menurut dia, fokus utama dokter ortopedi saat ini bukan lagi sekedar melakukan operasi darurat, melainkan mengembalikan kenyamanan hidup pasien agar bisa kembali produktif. "Bukan hanya operasi penyelamatan jiwa tetapi kualitas hidup pada para pasien itu harus kita dapatkan,” ujarnya.
Bagi warga senior, kembali mendapatkan kualitas hidup berarti mereka bisa bebas berjalan-jalan, aktif berkegiatan, atau berangkat ibadah umroh tanpa terhalang rasa sakit pada lutut atau panggul. Untuk mengurangi rasa nyeri pascaoperasi yang sering ditakuti pasien, Prof Andri juga menekankan pentingnya penerapan protokol medis terpadu seperti ERAS (Enhanced Recovery After Surgery).
“Pendekatan tim kemudian protokol yang baik seperti ERAS ini sangat diperlukan sehingga akhirnya bisa membuat atau memberikan hasil yang terbaik untuk pasien,” kata dia.
Pemulihan lebih cepat dengan robotik
Seorang pasien, Iskandar, membagikan pengalamannya yang pernah merasakan dua metode operasi berbeda untuk penggantian sendi lututnya (total knee replacement). Pada 2022, ia pernah menjalani operasi lutut dengan metode manual di rumah sakit lain. Dari pengalaman tersebut, ia merasakan bahwa metode manual membutuhkan waktu penyembuhan yang lebih lama, sayatan luka yang lebih lebar, dan rasa sakit pascaoperasi yang cukup mengganggu. Pengalaman itu berubah total ketika ia menjalani operasi lutut kedua dengan bantuan teknologi robotik di Siloam Mampang.
Iskandar menceritakan betapa terkejutnya ia melihat kecepatan pemulihan fisik yang dialaminya berkat bantuan teknologi robotik tersebut. “Penggantian lutut total secara robotik dilakukan di Mampang luar biasa bedahnya, saya dioperasi siang kemudian sorenya sudah disuruh jalan pakai tongkat,” kata Iskandar.
Kecepatan ini membuat aktivitasnya, seperti membengkokkan posisi kaki saat tidur, menjadi jauh lebih mudah dan tidak terasa menyiksa. Namun, Iskandar juga memberikan catatan realistis bagi pasien lain. Teknologi yang canggih harus diimbangi dengan kedisiplinan dan kemauan keras dari pasien itu sendiri selama masa pemulihan di rumah.
“Benar-benar kita harus 'paksa' untuk bisa jalan, 'paksa'. Tidak boleh terlalu lama duduk, terlalu lama duduk cepat kaku lagi,” ujar Iskandar.
Mengapa metode robotik lebih menguntungkan pasien?
Jika dilihat dari sisi medis, apa sebenarnya yang membedakan metode operasi modern berbasis robotik ini dengan metode konvensional biasa? Dokter spesialis ortopedi dan subspesialis cedera lahraga, dr Isa An Nagib, Sp.OT, Subsp.CO(K), FICS, menjelaskan secara sederhana bahwa setiap tindakan operasi pada dasarnya melibatkan proses membuka atau merusak jaringan tubuh terlebih dahulu agar dokter dapat menjangkau bagian dalam yang bermasalah. Pada metode, sayatan konvensional yang dibuat biasanya berukuran lebih besar, sehingga risiko pendarahan, infeksi, dan rasa nyeri setelah operasi otomatis menjadi lebih tinggi.
Dengan bantuan teknologi robotik, dokter dapat memotong tulang dan memasang implan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Efeknya, kerusakan pada jaringan lunak atau otot di sekitar area operasi bisa diminimalkan sekecil mungkin.
“Dengan teknik robotik ini, jaringan-jaringan atau jaringan lunak di area yang akan kita operasikan pastinya akan lebih meminimalkan luka atau kita rusak,” ujar dr Isa.
Sayatan yang lebih kecil dan jaringan yang terjaga ini membuat rasa nyeri pascaoperasi menjadi jauh lebih ringan, sehingga pasien bisa lebih cepat berlatih berjalan. Meski demikian, dr Isa secara mengingatkan bahwa perkembangan teknologi ini bukan berarti metode konvensional itu buruk, melainkan sebuah inovasi yang hadir untuk memberikan kenyamanan lebih bagi pasien.
“Jadi sebetulnya konvensional ini bukan berarti jelek tapi memang dengan perkembangannya atau ilmu update terbaru pastinya dapat ditemukanlah teknik atau metode-metode terbaru yang lebih menguntungkan bagi pasien,” ujarnya.

3 hours ago
3













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509321/original/086615600_1771679962-SnapInsta.to_630114161_18162147202417018_2870114530835891224_n__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499312/original/081206000_1770782561-Depositphotos_132132754_XL.jpg)

