REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT United Tractors Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp14,8 triliun sepanjang 2025. Laba bersih tersebut turun 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya akibat penurunan kontribusi segmen kontraktor penambangan dan pelemahan harga jual batu bara, meski sebagian tertopang penguatan harga emas.
“Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian hingga kuartal keempat 2025, pendapatan bersih tercatat Rp131,3 triliun atau turun 2 persen dari Rp134,4 triliun pada periode yang sama 2024,” tulis manajemen United Tractors dalam siaran pers yang dikutip pada Sabtu (28/2/2026).
Pendapatan tersebut terutama berasal dari kontraktor penambangan sebesar Rp54,1 triliun, turun 7 persen; mesin konstruksi Rp36,6 triliun, turun 2 persen; pertambangan batu bara termal dan metaluro Rp24,2 triliun, turun 7 persen; serta pertambangan emas dan mineral lainnya Rp14,0 triliun, naik 41 persen.
Pada segmen mesin konstruksi, penjualan alat berat Komatsu naik 2 persen menjadi 4.515 unit, ditopang peningkatan permintaan dari sektor kehutanan dan perkebunan. Berdasarkan riset pasar internal, pangsa pasar Komatsu mencapai 20 persen dan tetap memimpin pasar alat berat di sektor pertambangan. Penjualan Scania meningkat dari 436 unit menjadi 466 unit, sedangkan UD Trucks turun dari 234 unit menjadi 155 unit. Pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan turun 3 persen menjadi Rp11,3 triliun sehingga total pendapatan segmen ini terkoreksi 2 persen menjadi Rp36,6 triliun.
Segmen kontraktor penambangan yang dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara dan PT Kalimantan Prima Persada mencatat volume pemindahan tanah turun 10 persen menjadi 1.100 juta bcm hingga akhir 2025. Volume produksi batu bara klien relatif stabil di 148 juta ton dengan rata-rata stripping ratio 7,4x.
Penurunan pemindahan tanah dipicu curah hujan tinggi dan turunnya stripping ratio pada sejumlah kontrak, sehingga pendapatan bersih segmen ini turun 7 persen menjadi Rp54,1 triliun.
Pada segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang dikelola PT Tuah Turangga Agung, volume penjualan batu bara mencapai 11,6 juta ton termasuk 3,7 juta ton batu bara metalurgi, naik 14 persen dari 2024. Total volume penjualan termasuk pihak ketiga mencapai 14,3 juta ton atau naik 9 persen, namun pendapatan turun 7 persen menjadi Rp24,2 triliun akibat penurunan rata-rata harga jual batu bara.
Kemudian, segmen pertambangan emas dan mineral lainnya mencatat kenaikan pendapatan 41 persen menjadi Rp14,0 triliun. Di bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources mencatat penjualan bijih nikel sebesar 2,1 juta wet metric ton yang terdiri dari 0,7 juta wmt saprolit dan 1,4 juta wmt limonit. Perseroan juga memiliki 20,14 persen saham di Nickel Industries Limited yang terdampak pencatatan penurunan nilai dua proyek RKEF lama pada akhir 2024 sehingga memengaruhi kinerja triwulan pertama 2025. Hingga kuartal ketiga 2025, operasional RKEF mencatat penjualan nickel metal 93.264 ton.

10 hours ago
5

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)












