Para pembicara di World Health Assembly ke-79 di Jenewa.
REPUBLIKA.CO.ID,JENEWA — Dunia kesehatan global mulai menyadari bahwa penurunan angka kematian ibu dan bayi tidak lagi cukup mengandalkan intervensi klinis semata. Sistem kesehatan masa depan membutuhkan kesinambungan layanan dari komunitas hingga rumah sakit.
Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan yang dibawa Prof. Rinawati Rohsiswatmo saat mewakili Indonesia dalam forum internasional Measuring What Matters, Doing What Works: PHC & Community Entry Points to Accelerate Maternal Health yang digelar Business Council for International Understanding (BCIU) di Geneva, Swiss, pada rangkaian World Health Assembly ke-79, belum lama ini.
Selain Prof Rinawati yang mewakili Indonesia, forum ini juga menghadirkan Dr Geoff Ibbotson dari Global Surgery Foundation, Dr Maureen Momanyi dari UNICEF, dan Julius Mbeya dari Lwala Community, Kenya sebagai perwakilan Afrika.
Forum ini membahas mengapa kematian ibu dan bayi masih tinggi di berbagai negara berkembang meskipun investasi global kesehatan terus meningkat selama puluhan tahun. Salah satu penyebab utama yang disoroti adalah lemahnya layanan primer, sistem rujukan, dan keterhubungan layanan kesehatan berbasis komunitas.
Lewat keterangan tertulis, Selasa(19/5/2026), Rinawati menekankan bahwa Indonesia menghadapi tantangan inequity yang besar antarwilayah sehingga pendekatan kesehatan ibu tidak bisa dibuat seragam. “Program harus disesuaikan dengan kondisi tiap daerah. Yang paling penting adalah bagaimana komunitas ikut bergerak dan menjadi bagian dari kekuatan sistem kesehatan,” jelas Prof. Rinawati yang pernah menjadi Ketua UKK Perinatologi IDAI ini.
Menurut dia, keberhasilan kesehatan ibu tidak hanya diukur dari jumlah fasilitas kesehatan, tetapi dari kemampuan sistem menjaga kesinambungan pelayanan sejak deteksi dini di komunitas, proses rujukan, hingga layanan neonatal di rumah sakit. Pandangan tersebut sejalan dengan arah baru diskursus global kesehatan yang mulai bergeser dari pendekatan hospital-centered menuju community-centered healthcare.
Kehadiran Indonesia dalam forum ini memperlihatkan bahwa pengalaman negara berkembang justru semakin penting dalam percakapan kesehatan global. Negara seperti Indonesia dinilai memiliki pengalaman nyata dalam menghadapi kompleksitas ketimpangan, keterbatasan sumber daya, serta tantangan akses kesehatan di masyarakat.
Forum ini dinilai strategis untuk Indonesia karena turut merumuskan langkah konkret mempercepat pencapaian target SDGs bidang kesehatan ibu dan bayi pada 2030.

13 hours ago
6












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5210295/original/020455400_1746503932-cef51a0b-171c-465c-b961-0b620c5bafe2.jpg)


