REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Cendekiawan sekaligus Pembina Dompet Dhuafa, Prof Yudi Latif, menegaskan bahwa kekuatan utama yang melahirkan dan menjaga Indonesia hingga kini bukan semata faktor politik, melainkan budaya gotong royong yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Nusantara.
Yudi menjelaskan, pada masa kolonial, wilayah Nusantara terdiri atas ratusan kerajaan dan kesultanan yang memiliki sejarah panjang perlawanan terhadap penjajahan. Namun, perlawanan tersebut masih bersifat lokal dan sporadis karena belum memiliki titik temu yang mampu menyatukan seluruh kekuatan bangsa.
"Kerajaan-kerajaan dan kesultanan di Nusantara itu jumlahnya antara 250 sampai 390. Mereka melakukan perlawanan, mulai dari Maluku, Jawa, Sumatra hingga Sulawesi. Tetapi karena masyarakatnya majemuk, terlalu mudah diadu domba dan perlawanannya masih bersifat lokal," ujar Prof Yudi Hal itu disampaikan Yudi dalam acara Dialog Kebangsaan bertema "Pancasila Sebagai Nilai-Nilai Dasar Bernegara" di Gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, Jumat (14/8/2026).
Menurut dia, lahirnya Indonesia sebagai bangsa berawal dari ditemukannya "penyebut bersama" yang mampu menyatukan keragaman suku, agama, etnis, dan ideologi.
Yudi mengibaratkan kondisi bangsa seperti pecahan dalam matematika yang tidak dapat dijumlahkan tanpa memiliki penyebut yang sama.
"Dalam matematika, pecahan-pecahan tidak bisa dijumlahkan kecuali penyebutnya disamakan. Indonesia hadir sebagai penyebut bersama yang menyatukan berbagai perbedaan itu," ucapnya.
Ia menjelaskan, istilah Indonesia awalnya merupakan istilah etnologi dan geografi yang kemudian dipakai para pendiri bangsa sebagai pengganti nama Hindia Belanda. Pilihan tersebut menjadi bentuk perlawanan simbolik terhadap identitas yang diwariskan kolonialisme.
Namun, menurut Yudi, nama Indonesia saja tidak cukup. Bangsa ini membutuhkan nilai bersama yang menjadi perekat kebangsaan. Nilai itulah yang kemudian dirumuskan dalam Pancasila.
Meski terdiri atas lima sila, Yudi mengutip pandangan Presiden pertama RI Soekarno yang menyebut inti Pancasila sesungguhnya adalah gotong royong.
"Kalau kata Bung Karno, inti Pancasila itu gotong royong. Ketika berbagai pecahan itu bersatu dan bekerja sama, di situlah lahir kekuatan bangsa," ujarnya.
Yudi menilai gotong royong bukan sekadar slogan, melainkan budaya yang telah teruji sepanjang sejarah Nusantara. Ia mengutip pandangan ahli manajemen dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Edgar Schein, yang mendefinisikan budaya sebagai cara bekerja dan bekerja sama yang terus diulang karena terbukti berhasil.
"Itulah budaya kita. Gotong royong adalah kekuatan yang telah teruji dalam sejarah bangsa ini," katanya.
Ia mencontohkan pengalaman Indonesia saat menghadapi pandemi Covid-19. Menurut Yudi, keterlibatan masyarakat sipil, organisasi sosial, kelompok pengajian, PKK, kampus, hingga komunitas menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan pandemi.
"Ketika ibu-ibu pengajian, PKK, kampus, dan masyarakat ikut bergotong royong, persoalan yang sulit bisa diselesaikan bersama," ujarnya.
Yudi juga menyinggung predikat Indonesia sebagai salah satu negara paling dermawan di dunia. Menurut dia, hal itu menunjukkan bahwa kekuatan budaya dan solidaritas sosial menjadi modal utama bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Yudi menilai kolaborasi antara Dompet Dhuafa dan PARFI '56 menjadi contoh nyata praktik gotong royong dalam kehidupan modern.
"Ada PARFI, ada Dompet Dhuafa, ada banyak unsur yang berkolaborasi. Kalau kita gotong royong, hal-hal yang sulit bisa diselesaikan," katanya.
Yudi menegaskan, peran seniman dan budayawan juga memiliki posisi penting dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Menurut dia, kekuatan kebudayaan sering kali lebih bertahan lama dalam ingatan masyarakat dibanding peristiwa politik.
"Peristiwa politik bisa dilupakan orang, tetapi memori kebudayaan dan seni mengendap lebih lama dalam ingatan bangsa," ujarnya.
Karena itu, pada usia kemerdekaan ke-81 RI, Yudi berharap kebudayaan kembali menjadi kekuatan pemersatu bangsa di tengah berbagai perbedaan dan tantangan zaman.
"Kekuatan budaya harus memainkan peran besar untuk mengembalikan bangsa ini kepada jati dirinya. Indonesia dibangun oleh gotong royong," kata Yudi.

10 hours ago
9





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536549/original/029350900_1774329970-pexels-elletakesphotos-5764077.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559034/original/060735700_1776504757-pexels-loquellano-16123121.jpg)








