Seorang pedagang menarik sapi kurban yang akan dijual di Mataram, NTB (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima Dompu Indonesia (APPSBDI) mengungkapkan, perputaran uang dari penjualan hewan kurban asal Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai ratusan miliar rupiah setiap tahun. Mayoritas pengiriman sapi bima dompu tertuju ke pasar utama di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).
"Rata-rata 20 ribu ekor sapi dikirim setiap tahun," kata Ketua APPSBDI Furqan Sangiang kepada kantor berita Antara di Mataram, NTB, pada Senin (27/4/2026).
Ia menjelaskan, harga sapi bima dompu paling rendah Rp15 juta per ekor. Itu bisa mencapai Rp50 juta per ekor untuk kualitas yang paling bagus.
Dari jumlah 20 ribu ekor sapi yang didistribusikan dari NTB setiap musim Idul Adha, perputaran uang pun tercipta sekitar Rp500 miliar hingga Rp600 miliar.
Menurut Furqan, industri peternakan sapi kurban turut menyumbang pendapatan bagi Provinsi NTB. Hal ini melalui retribusi yang dibayarkan para peternak dengan nominal Rp62 ribu untuk setiap satu ekor sapi.
"Usaha sapi memberikan sumbangsih bagi peternak untuk membiayai sekolah anak dan menggerakkan roda ekonomi," ucap Furqan.
Berdasarkan data Balai Karantina NTB, distribusi sapi asal NTB sejak Januari hingga 27 April 2026 didominasi pengiriman ke Jabodetabek yang mencapai 25.974 ekor dengan frekuensi 1.046 kali pengiriman.
Adapun distribusi sapi ke luar Jabodetabek tercatat 3.257 ekor dan ke wilayah Lombok hanya sebanyak 3.020 ekor yang mengindikasikan konsentrasi distribusi hewan ternak asal NTB paling banyak mengarah ke Pulau Jawa.
Sektor peternakan telah mengurangi tekanan terhadap lingkungan karena masyarakat yang sebelumnya bergantung terhadap aktivitas perambahan hutan untuk perkebunan jagung mulai beralih ke usaha budidaya sapi sebagai sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan.
sumber : Antara

5 hours ago
3
















































