REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Badan Geologi menjelaskan penyebab krusial yang mengakibatkan longsor dan menimbun puluhan rumah serta merenggut puluhan jiwa di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Badan Geologi menyebut, penyebabnya bukan hanya alih fungsi semata dari perkebunan menjadi lahan pertanian.
Pelaksana Harian Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM Edy Slameto mengatakan, peristiwa itu terjadi karena kombinasi faktor geologi, kemiringan lereng, dan curah hujan tinggi. Pihaknya sudah melakukan analisa di area terjadinya longsor maut itu.
Hasilnya, kondisi geologi di lokasi longsor didominasi batuan vulkanik yang tingkat pelapukannya sangat tinggi sehingga mudah mengalami pergerakan tanah. Material hasil lapukan inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya longsor, bukan batuan utamanya.
Selain faktor geologi, Edy menjelaskan, kemiringan lereng yang curam turut memperbesar potensi longsor. Peristiwa longsoran yang terjadi telah mengubah morfologi lereng sehingga membutuhkan pemetaan ulang untuk mengetahui kondisi terbaru dan potensi bahaya susulan.
"Kondisi lerengnya sangat curam. Setelah terjadi longsor, morfologi pasti berubah. Ini perlu waktu untuk dipetakan ulang agar diketahui posisi lereng dan sebaran endapan vulkaniknya," kata Edy di lokasi, Kamis (29/1/2026).
Faktor ketiga yang tak kalah krusial adalah curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus. Menurut Edy, hujan merupakan parameter dinamis yang tidak dapat dikendalikan, namun sangat berpengaruh terhadap kestabilan lereng di kawasan tersebut.
"Tiga parameter ini, geologi, kemiringan lereng, dan curah hujan, tidak berdiri sendiri. Semuanya saling berkaitan dan memperbesar risiko longsor," ungkap Edy.
Terkait dugaan alih fungsi lahan, Edy menegaskan Badan Geologi belum dapat menyimpulkannya karena harus ada kajian mendalam. Edy menilai, bencana alam tidak pernah disebabkan oleh faktor tunggal.
"Kalau ada pihak yang menyebut alih fungsi lahan sebagai salah satu faktor, itu mungkin saja. Tapi perlu kajian lebih lanjut. Yang jelas, tidak ada bencana yang terjadi hanya karena faktor tunggal atau satu penyebab," sebut dia.
Berdasarkan pemetaan awal, longsor di Cisarua memiliki panjang sekitar 2,5 kilometer (km) lebih dengan lebar mengikuti alur sungai di bagian bawah. Volume material longsoran diperkirakan mencapai 500 ribu hingga 1 juta meter kubik.
"Longsor ini mengikuti pola aliran sungai karena di bagian bawah terdapat sungai. Material bergerak mengikuti jalur tersebut," ujarnya.
Untuk mencegah risiko lanjutan, tim Badan Geologi akan berada di lokasi setiap hari guna mengumpulkan data dan memperbarui informasi. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar rekomendasi teknis, termasuk penentuan relokasi dan langkah mitigasi.
"Kami berupaya secepat mungkin memberikan rekomendasi teknis agar jika terjadi pergerakan susulan, tidak sampai menimbulkan korban," kata Edy.

4 hours ago
3




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5327442/original/074400200_1756181216-saus_dimsum.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5152422/original/035586500_1741248417-pexels-arief-setiawan-10066715.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5216300/original/079062600_1746950447-a7f30be3-5eb9-4444-9d40-752ae5318cb0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368914/original/007484600_1759398264-br.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376540/original/089405700_1760007517-crio_new_menu-0293e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5275054/original/013394900_1751863195-powell-rasull-7YFfGE26kbs-unsplash.jpg)