Foto udara permukiman warga terdampak banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11/2025). BPBD Tapanuli Selatan mencatat hingga Sabtu (29/11) sebanyak 43 korban meninggal dunia di wilayahnya akibat banjir bandang pada Selasa (25/11).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) menyoroti bencana banjir besar yang melanda Sumatra Utara dan Aceh. Wakil Ketua ICMI sekaligus Pembina Badan Reaksi Cepat (Baret) ICMI, Priyo Budi Santoso menyatakan keprihatinan dan duka cita mendalam serta menegaskan perlunya mitigasi risiko bencana berbasis data ilmiah agar kebijakan penanggulangan lebih tepat sasaran.
“Bencana ini bukan hanya soal curah hujan ekstrem, tetapi juga bagaimana kita mengelola ruang, menjaga kawasan resapan, dan membangun sistem peringatan dini yang komunikatif. Tanpa data ilmiah yang kuat, kebijakan mitigasi akan selalu tertinggal dari realitas lapangan,” kata Priyo dalam pernyataannya, Ahad (30/11/2025).
Priyo mengutip analisis seorang pakar Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Heri Andreas dari ITB, bahwa banjir besar di Sumatra dipicu beberapa faktor. Curah hujan ekstrem yang mencapai lebih dari 300 mm dalam sehari, fenomena atmosfer berupa pusaran siklonik yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar, serta kerusakan lingkungan akibat perubahan tutupan lahan memperparah kondisi.
“Jadi masalah bencana banjir memang bukan cuma soal curah hujan, tetapi tentang bagaimana air diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi,” ujar Priyo.
ICMI menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga ilmiah untuk memperkuat kebijakan penataan ruang, konservasi hutan, serta sistem peringatan dini berbasis sains atmosfer dan geospasial. Priyo menambahkan, literasi kebencanaan di masyarakat juga harus ditingkatkan agar warga memahami risiko dan langkah antisipasi yang tepat.
"Kebijakan pengelolaan lingkungan hidup secara arif juga perlu ditingkatkan, bahwa bumi bukan hanya untuk dieksplotasi tanpa henti namun juga harus direhabilitasi serta dikonservasi agar semuanya selamat," kata Priyo.
ICMI berharap tragedi banjir Sumut–NAD menjadi momentum memperkuat mitigasi berbasis data ilmiah, sehingga masyarakat lebih tangguh menghadapi bencana di masa mendatang. Ia menambahkan, Baret ICMI siap berkolaborasi dengan lembaga-lembaga kemanusiaan untuk melakukan mitigasi bencana.

1 hour ago
1































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344879/original/037827700_1757495713-Kota_Semarang.jpg)








