REPUBLIKA.CO.ID, SITUBONDO -- Sikap sebagian warga Nahdlatul Ulama (NU) yang menyatakan dukungan kepada Iran di tengah memanasnya konflik Amerika Serikat–Israel versus Iran menuai perdebatan. Ada yang mempertanyakan, apakah mendukung Iran membuat seseorang keluar dari manhaj Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah?
Menjawab kegamangan tersebut, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Situbondo, KH Afifuddin Muhajir memberikan penjelasan dalam sebuah kajian yang diunggah akun Instagram Ma'had Aly Situbondo.
Pertanyaan itu mencuat setelah seorang pengurus MWC NU disebut mempertanyakan ke-NU-an seseorang yang secara terbuka mendukung Iran. Padahal, orang tersebut dikenal akrab dengan amalan dan literatur khas NU. Namun ketika Iran melancarkan serangan, ia disebut paling lantang memberi dukungan.
“Apakah dia masih Aswaja An-Nahdliyah atau sudah Syiah?” demikian inti pertanyaan yang disampaikan dalam forum tersebut.
Menanggapi hal itu, Kiai Afif memberikan jawaban yang menekankan pentingnya melihat skala prioritas dalam menghadapi konflik global.
“Daripada mendukung Amerika, kan lebih baik mendukung Iran,” ujar Kiai Afif dikutip dari video yang juga diunggah di akun Instagram pribadinya, Rabu (4/3/2026).
Ulama sepuh NU ini lantas menjelaskan adanya istilah “musuh besar” dan “musuh kecil” dalam membaca dinamika perlawanan dan konflik. Menurutnya, bisa saja ada perbedaan aqidah dengan Syiah yang secara teologis memang menjadi titik perdebatan panjang dalam khazanah Islam. Namun dalam menghadapi ancaman yang dinilai lebih besar, kerja sama dalam batas tertentu dimungkinkan.
“Barangkali kita bermusuhan dengan syiah, tapi musuh dalam pengertian tertentu. Akan tetapi dalam menghadapi musuh besar, kita bisa bersama-sama orang syiah untuk menghadapi musuh besar itu, ya kan?,” ucap Wakil Rais Aam PBNU ini.
Untuk menguatkan argumennya, Kiai Afif pun mencontohkan sikap ulama besar, Imam Al-Ghazali. Ia menjelaskan, Al-Ghazali dikenal keras mengkritik Mu’tazilah dalam soal teologi. Namun ketika berhadapan dengan arus filsafat yang dinilai lebih berbahaya terhadap aqidah umat, Al-Ghazali justru menggandeng Mu’tazilah untuk menghadapi kaum filsuf.
“Artinya lebih bahaya filsuf daripada Mu’tazilah, sebagaimana lebih bahaya Amerika daripada Syiah,” kata santri Pahlawan Nasional KHR As'ad Syamsul Arifin ini.
Dengan analogi tersebut, Kiai Afif menegaskan bahwa sikap politik dalam konteks geopolitik tidak otomatis mengubah identitas teologis seseorang. Dukungan terhadap Iran dalam konteks perlawanan terhadap Amerika Serikat, menurutnya, tidak serta-merta menjadikan seseorang keluar dari barisan Aswaja An-Nahdliyah.
“Tak masalah,” kata dia menegaskan.

2 hours ago
1


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)













