Industri food and beverage (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pertumbuhan bisnis makanan dan minuman (F&B) serta ritel dinilai belum sepenuhnya diikuti kesiapan operasional perusahaan. Di tengah ekspansi gerai yang terus meningkat, sejumlah pelaku usaha menghadapi tantangan pengelolaan transaksi, stok, hingga laporan keuangan yang belum terintegrasi.
Data Bank Indonesia mencatat penjualan ritel tumbuh 6,5 persen secara tahunan pada Maret 2026. Sementara kategori makanan dan minuman tumbuh 8,5 persen selama delapan bulan berturut-turut pada akhir tahun lalu.
Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, sejumlah pelaku usaha disebut menghadapi persoalan operasional saat bisnis mulai berekspansi ke banyak cabang.
Kondisi tersebut mendorong perusahaan penyedia layanan software as a service (SaaS), Mekari, meluncurkan layanan point of sales (POS) untuk sektor F&B dan ritel.
CEO Mekari Suwandi Soh mengatakan, banyak bisnis mengalami kendala ketika ekspansi mulai berkembang karena pengelolaan operasional yang belum terintegrasi.
“Banyak bisnis hebat di Indonesia berhenti di outlet kedua atau ketiga, bukan karena kehabisan pelanggan, tetapi karena kehilangan kendali atas data mereka sendiri,” ujar Suwandi dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).
Menurut dia, sistem POS saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai mesin kasir, tetapi juga menjadi pusat kendali operasional bisnis secara real time.
Mekari menyebut layanan tersebut memungkinkan pemilik usaha memantau performa seluruh cabang melalui satu dashboard, termasuk pengelolaan stok, transaksi, hingga laporan keuangan.
Selain itu, sistem juga terintegrasi dengan layanan akuntansi, manajemen tenaga kerja, hingga perpajakan dalam ekosistem digital perusahaan.
Perusahaan menilai integrasi operasional menjadi faktor penting bagi bisnis yang ingin memperluas jaringan usaha secara berkelanjutan, khususnya di sektor F&B dan ritel yang memiliki transaksi harian tinggi.

13 hours ago
13














































