ivan adilla
Sastra | 2026-07-16 12:37:50
*Ivan Adilla
Dosen di Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas, Padang
Inilah buku puisi yang tak biasa, karya seorang penulis yang tak lazim. Biasanya, sebuah antologi dirangkai oleh sebuah benang merah; tema yang sama, teknik pengucapan yang khas, atau momen tertentu. Akan tetapi, buku ini disatukan oleh satu alasan; ditulis oleh penyair yang sama. Sudah jadi kebiasaan juga, antologi menghimpun puisi dalam periode tertentu, sementara buku ini menghimpun puisi yang ditulis dalam rentang waktu yang panjang; sepanjang karir penulisnya. Secara fisik, tampilan antologi puisi setebal lebih dari tiga ratus halaman ini layaknya buku teks akademik,—tinggal melengkapinya dengan indeks dan daftar referensi di akhir buku.
Lazimnya, buku puisi ditulis oleh seorang penyair. Akan tetapi, buku puisi ini adalah karya dari seorang penulis yang tidak ingin disebut penyair. Ikhwanul Arif telah menulis puisi sejak tahun 1990-an. Ia mempublikasikan puisinya di Harian Suara Pembaruan (Jakarta), Bali Pos (Depasar), Haluan dan Singgalang (Padang). Beberapa puisinya juga disertakan dalam beberapa antologi bersama yang diterbitkan dalam even tertentu di berbagai kota. Tapi mengapa ia enggan membukukan puisinya? Seperti dia katakan dalam sebuah wawancara[1], ia menolak untuk menjadi penyair. Sikap penolakan itu lahir karena “orang memberikan label dan harapan berlebihan pada puisi’. “Penyair itu bukan orang hebat. Ia sosok biasa-biasa saja, seperti halnya tukang becak, garong, buruh, kertas tisu, dan lainya. Tak perlulah kita terlalu mengagungkan puisi dan penyair”, ujarnya. Itulah sebabnya ia membatalkan penerbitan antologi puisinya sendiri saat dalam proses penyiapan pada 1994.
Di lingkungan wilayah kesenian di Sumatra Barat, Ikhwanul Arif dikenal sebagai aktor, pemusik, dan penyair. Sebagai aktor, ia beberapa kali tampil dalam pementasan yang ditaja oleh beberapa grup teater. Salah satu grup teater yang agak lama ia singgahi adalah Teater Size, yang bermarkas di Taman Budaya Sumatra Barat, Padang. Meskipun selalu tampil mengesankan dalam banyak pertunjukan teater, Ikhwanul Arif selalu saja terlihat gelisah. Seakan tidak pernah puas pada pemahamannya sendiri terhadap teks maupun akting yang ia suguhkan. Terlihat sekali ia orang yang tak mudah puas dan selalu berusaha melakukan pencarian. Beberapa kali ia bertanya tentang bacaan dan argumen pada beberapa orang yang dianggapnya lebih luas bacaan dan pengalamannya.
Ia hampir selalu hadir dalam dialog dan diskusi di Taman budaya, ‘rumah gadang’ yang ramah bagi seniman di Padang hingga awal tahun 2000-an. Kadang saya melihat Ikhwanul bicara dengan Zurmailis, dedengkot Teater Noktah dan akademisi dari Universitas Andalas. Kali yang lain ia terlihat mengobrol dengan dramawan Wisran Hadi (Bumi Teater), mendengarkan pikiran dari sastrawan Darman Moenir, atau Sjafrial Arifin (Teater Jenjang). Namun yang paling sering ia lakukan malah menyimak pembicaraan orang lain. Menimbang-nimbang isi pembicaraan, mengkonfrontasikannya pada orang lain, menimbang lagi dan membincangkannya. Ia bukan orang yang nyinyir dan selalu ingin tampil untuk berargumen di hadapan orang banyak
Ia juga aktif bersama grup musik Pentassakral, sebuah grup musik yang didirikan dan dipimpin Alda Wimar, yang juga seorang penyair. Karena pengalaman dan minatnya dalam bidang music, Ikwanul Arif sering diminta menjadi mentor bagi siswa sekolah yang akan memproduksi dan mementaskan musikalisasi puisi.
Ikhwanul senang menyandang tas kecil, yang di dalamnya ada buku yang sedang ia baca. Beberapa buku itu terlihat belel karena terlalu sering dibolak balik. Untuk masa itu, dalam pengamatan saya, tak banyak pekerja seni yang menjadikan buku dan kesenangan berpikiran sebagai hobi kesehariannya. Kalau saya dan Ikhwanul bertemu, yang sering kami obrolkan adalah persepsi-persepsi tentang bacaan dan persoalan yang actual. Sebagai pekerja seni, Ikhawanul selalu beraktifitas dengan senang hati dan tanpa pamrih. Ia juga bukan orang yang senang memanfaatkan orang lain, untuk mendapatkan uang maupun nama besar. dengan segala tingkah lakukanyan yang kurang lazim itu, maka Ikhwanul adalah makhluk langka di antara orang-orang yang menyebut dirinya ‘seniman’ dan banyak berkeliaran di lingkungan Taman Budaya Sumatra Barat hingga awal tahun 2000-an.
Di akhir tahun 2000-an, suasana berkesenian di Taman Budaya Sumatra Barat mulai berubah. Kegiatan banyak berkurang, gedung pertunjukan tidak terawat, suasana birokratis menguat, dan para seniman lebih suka mengomel daripada berkarya. Tempat itu pun mulai ditinggalkan. Dalam situasi demikian, Ikhwanul mengalihkan kegiatannya ke sekolah-sekolah dan kampus. Ia memproduksi musik-musik puisi dan menampilkannya dalam beberapa kesempatan. Menyinggahi beberapa grup teater kampus yang masih aktif, dan menemukan tempat persinggahan yang nyaman bersama Kelompok Teater Imam Bonjol di kampus UIN Lubuk Lintah, Padang. Sepertinya ia lebih nyaman di sana bersama mahasiswa pencinta seni. Kini kegiatan di teater kampus juga mulai megap-megap. Arena perbincangan pun beralih ke kafe-kafe. Saya dan Ikhwanul adalah pengunjung tua di antara pelanggan Kafe Pojok Steva, sebuah ruang diskusi, warung kopi, dan perpustakaan yang nyaman di pinggiran kota Padang.
Jejak kegiatan Ikhwanul menunjukkan bahwa ia adalah pejalan yang gelisah, tak betah untuk berdiam di satu tempat maupun wilayah kesenian. Ia enggan disebut aktor meski bermain dalam banyak pertunjukan. Segan disebut musisi meski melahirkan beberapa karya musik. Juga tak mau disebut penyair, meski menghasilkan banyak puisi. Buku ini, agaknya, memang bukan sekadar antologi puisi. Ia adalah catatan perjalanan diri penyairnya dalam bentuk puisi. Karena itu, puisi-puisi di buku ini tidak terfokus pada tema tertentu. Problem yang dibahasnya luas dan melebar, sejak dari masalah cinta, lingkungan sosial, ketuhanan, hingga persoalan diri sendiri. Ia juga tak berpretensi untuk mengolah sisi tertentu dari bahasa yang dia gunakan. Puisi-puisinya adalah kesan tentang pertemuan, resepsi dari persentuhan dan perjumpaan. Kita bisa melihat jejak gaya Chairil Anwar dalam beberapa puisi, atau metafora yang melankolis layaknya puisi Sapardi Djoko Damono dalam sajak yang lain. Atau renungan yang sumblim tentang Tuhan dalam bahasa yang ambigu layaknya sajak-sajak Abdul hadi WM, juga ketulusan yang dirangkai dalam bahasa sederhana nan menyentuh ala Rabiah al Adawiyah.
Ikhwanul tampaknya memang tidak berpretensi untuk menjadi penyair yang berusaha meninggalkan jejak khusus dalam karirnya sebagai penulis. Seperti diungkapkannya, ia lebih senang menjadi orang biasa, yang menuliskan opini, kesan, dan kenangannya saat mengamati dan bersentuhan dengan berbagai hal dalam perjalanannnya. Mungkinkah buku ini akan jadi buku puisi pertama dan satu-satunya dari Ikhwanul Arif, penulisnya?
Dari puisi-puisi yang terkumpul dalam antologi ini, setidaknya, ada tiga hal yang menonjol dalam perjalanan yang dilakukannya. Pertama adalah diri yang berkelana. Kedua, diri yang gelisah. Ketiga diri yang berlayar ke hulu.
Sajak perjalanan
Secara linguistis, bahasa adalah sistem simbolik yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Dalam konteks itu, bahasa adalah representasi dari pikiran, perasaan dan diri pembahasa. Bertolak dari konsep itu, puisi dalam antologi ini juga menghidangkan kepada kita bagaimana penyair bergulat dengan sarana sastra, bahasa yang ia gunakan.
Sajak-sajak awal dipenuhi bahasa yang cair dengan makna denotatif. Bahasa difungsikan sebagai alat untuk mencatat peristiwa yang disaksikan, perasaan, dan pikiran. Sajak dalam dua periode awal, sajak perjalanan dan kegelisahan diri, menggambarkan hal demikian. Bahasa di sini masih berfungsi heuristik, sebagai simbol tingkat pertama. Bahasa lebih banyak digunakan untuk deskripsi, menjelaskan peristiwa dan perasaan. Indikasinya terlihat dari jarangnya metafora dan peristiwa naratif yang simbolik. Pada sajak yang lebih kemudian, bahasa difungsikan secara lebih konotatif. Kata-sifat yang menggambarkan emosi, penilaian dan perasaan digantikan oleh deskripsi yang metaforik..
Baiklah dimulai dari puisi-puisi perjalanan. Membaca teks tentang perjalanan, di benak saya muncul beberapa pertanyaan; tempat apa yang disinggahi; (si)apa yang ditemukan, dan apa yang dicatat? Pertanyaan demikian menggiring saya saat membaca sajak-sajak awal yang umumnya berupa kisah perjalanan. Tempat yang disinggahi penyair umumnya adalah ruang sementara dan ruang antara. Sejak dari halte, losmen, pantai, pelabuhan, hingga stasiun. Semua ruang itu bukanlah ruang sosial yang tetap dengan nilai, radisi dan sistem sosial tersendiri. Ia hanyalah ruang persinggahan, ruang transit, yang bersifat sementara. Nah, ruang-ruang seperti itulah yang kerap didatangi Ikhwanul dan memenuhi puisi perjalanan dalam buku ini.
Di ruang transit itulah terjadi pertemuan dengan orang lain, tempat menyaksikan peristiwa mengesankan untuk dicatat. Di halte, ‘aku lirik’ berjumpa wanita; dalam kapasitasnya sebagai pasangan kekasih maupun seorang pelacur, seperti terlihat dalam puisi “Malam Sederhana di Sebuah Halte” (66). Pantai dan pelabuhan adalah tempat yang mengajak aku lirik untuk berkontemplasi; mengingatkan pada diri, perjalanan hidup dan kematian. Hal itulah yang kita saksikan dalam puisi “ Di Pelabuhan Hening”, “Anak-Anak Buih” (90), “Mencari Pulang” (92); dan “Di Pelabuhan Malam”. Bagian awal dari antologi ini, yang memuat puisi-puisi perjalanan, sebagian besar mencatat kesan penulisnya terhadap orang dan tempat-tempat yang disinggahinya. Penulisnya mencatatn berbagai sosok atau dan peristiwa dengan persepsi pribadinya. Bukan karena keluarbiasaan sosok ata peristiwa itu. Banyak hal yang terlihat remeh dan biasa tetap ia catat karena ada respon yang ingin ia sampaikan. Ya, respon penulis terhadap hal yang ditemui adalah hal yang menonjol pada puisi tentang perjalanan.
Klimaks dari perjalanan adalah puisi “Sampai” (129). Puisi ini menggambarkan pencarian diri ‘aku lirik’ yang lebih dalam dan dekat-lekat secara eksistensial. /Di deru gelombang kutemukan detak/ Bagi jantungku/ Kutemukan denyut bagi nadiku/. Lautan dengan gelombangnya tidak lagi menakutkan, tajam karang tak lagi menyakitkan. Tak ada lagi pesona pasir, kisah dan nelayan. Semuanya diterima dan dipasrahi, /Perih ku kembalikan pada luka/ Luka pulang pada sembilu/ Sembilu ku bakar penuh candu/.
Kegelisahan Diri
Setelah perjalanan ke berbagai ruang, yang segera muncul adalah kegelisahan bersama waktu. Penyebab utama kegelisahan itu adalah fenomena sosial yang buruk yang disaksikan sepanjang perjalanan dan ruang persinggahan. Puisi “Homp Pim Pah Anak-Anak”, misalnya, mengambarkan pemimpin negeri yang bobrok; /Bapak-bapak muka bopeng/ istri muda memasang topeng/ Kemejanya beternak wereng/ Mulutnya besar seperti kaleng/Akibatnya perahu kita oleng/. Puisi di atas mengejek dengan cara menertawakan situasi yang ada, yang terlihat dari adanya unsur persajakan yang di pertahankan di akhir baris.
Fenomena sosial tidak hanya menyangkut para pejabat bejat. Ia juga tentang orang-orang biasa, rakyat banyak yang kehidupannya menimbulkan sikap pesimis pada Indonesia yang malas bergerak. //Pada 6.30 /Penghuninya masih tertidur/.../Sebagian kecil mengangkang di kasur penuh tambalan/ sebagian besar mencingkuk di lantai/ tanpa tikar dan seprai/... /Kamar ini begitu bau/ Pispot sama dengan piring makan/ Tak ada toilet/.
Di sekolah, guru-guru tak bisa mengajar. /Dalam tas mereka tersusun kurikulum-kurikulum/ Buku-Buu kenaikan pangkat serta golongan/ Mimpi yang belum dijalani /Dan mereka hanya bisa mengajar cara bermimpi/ ( “6.30 Indonesia Waktu Statis”).
Kecemasan juga lahir dari bayangan keterpecahan negara yang warganya makin tak solid dalam kemiskinan rakyatnya. Seperti terlihat dalam sebuah sajak yang ditulis selepas Peristiwa Reformasi 98, dengan judul yang sloganistis, berikut ini. / Kemarin masih sepotong roti/ hari ini tinggal seteguk air/ Buat besok entahlah// Akankah kita buka simpul dari gulungan, menjahir/ Luka sendiri-sendiri, terpisah di meja dan ranjang/ Serta ruang pengobatan berbeda?/ (“Menuju Indonesia Baru?”). Kecemasan itu makin menguat setengah dekade kemudian, tahun 2004, saat penulis menyaksikan bagaiman penegakan hukum di negeri ini. Hukum yang tak menyelesaikan masalah, tapi malah menikung dan mengalihkan. /III. Tips penangkapan/ Cara mudah menangkap pengedar ganja/jadilah bandar/ Tentu saja untuk menangkap pencuri haus ahli mencuri/ Itulah Indonesia//.../ Jangan mencuri telur/ sebab untuk pencuri telur/ palu hakim berdentam jauh lebih kuat/ bonus hukuman lebih tinggi dan tak ada PK/ untuk itu/ jadilah koruptor/ bisa dapat diskon setinggi-tingginya/ bunyi palu bisa berganti dengan tepuk tangan// (“Kredo Hukum Indonesia”).
Dalam kegelisahan itu, maka sosok ibu adalah tempat mengadu. /Ibunda!/ Aku di samudera sunyi/ Dengan gelombang kecemasan dan kecemburuan/ yang tak bisa ku hempaskan/ /Manakah dataran, rahim bagi kelahiranku?/ / Carikan aku pantai, tepian bagi ombak/ Yang bergulung di nafasku// (“Pelayaran yang Tertunda”). Ia kini sampai pada tahap kepasrahan. /Dengar cintaku,/ Nafiri musim tak lagi menyulam wewangian/ Hidup hanya merajut keringat. Dengan cinta/ kita sembunyikan penyakit dan kegelisahan/ Dalam kembang-kembang pucat serta anyir sebelum kemarau memasuki ruangan/ /Di koridor penuh rerumputan/ menangkap nafiri angin/ bernyanyi aku, sendiri/ tak lagi bersama lengang/ ( “ Sampai pada Batas”, 1999). Pada tahap ini terlihat banyak diksi-diksi kontradiktif bermunculan, yang menunjukkan keragaman persepsi penulisnhya.
Aku lirik kini kehilangan harapan. Segalanya telah mengecewakan, termasuk para sikap para penyair. /Maafkan kami/ Ya, Tuhan/ Telah kami jual Engkau/ untuk membungkus puisi-puisi kosong/ “ Dosa Para Penyair”, 2004. Akupun menyadari bahwa ia telah mengecewakan Tuhan. Juga menyesali perbutannya. /Aku menyesal membikin tuhan cemburu/ Pernah aku percaya pada puisi/ Tuhan menangis dalam hatiku/ Menjadi diksi yang sepi/ ( “-- .---- ..-----” 2011). Kekecewaan yang lahir terutama disebabkan hal-hal sekelilingnya yang riuh tanpa makna. /Ah, di manakah/ Di jalur yang padat ini bisa kau temukan/ Kalimat penutup/ Slogan atau puisi sama saja: lengang dari makna/ (“Sebuah Puisi Sepi di Trotoar”, 2004,).
Pilihan untuk kesendirian makin kentara pada “Reiknaranasi,1996”, dan “ ”, hingga akhirnya ia memilih untuk pulang ke hulu dalam ”Kembali ke Hulu”, 2006; /Kalau kau kecewa dengan gelombang/ Pulanglah ke hulu/ sejenak pun jadi/. Penyair merasa waktu bagai temali yang melilit diri, membatasi, mengikat dan memilin sehingga diri menjadi tanpa arti. /Terperangkap dalam tubuh/ Jiwa tinggal/ Serupa artefak kelahiran saja/ Melingkar/ Dalam plasenta waktu// “Mati (Dalam Plasenta Waktu), 2011”.
Dalam suasana sepi sunyi sendiri itu, tiba-tiba ia kehilangan seorang yang mengesankan baginya, seseorang yang menjadi cahaya kecil di tengah kegelapan layaknya kunang-kunang. Begitulah, sajak liris dengan diksi sederhana tapi ditulis dengan ketulusan yang intens, lahir sebagai sajak yang kuat.
//Mungkin atu tak bisa menangis, kecuali hanya bisa berkirim/ airmata/ Dan Doa segera kuapungkan sekhidmatnya/ Menelusuri orchestra kesedihan/ lalu di setiap jejaknya akan terbentang anyaman cahaya/ Yang memadatkan kunang-kunang jadi bula/ Selamat jalan Bapak Wisran, lelaplah di samping-Nya// ”Anyaman Cahaya Kunang-Kunang”, 2011.
Puisi di atas, menurut pengakuan Ikhwanul, lahir secara spontan saat ia mendapat kabar duka tentang meninggalknya sastrawan Wisran Hadi. Ia telah mengenal lama Wisran Hadi, membaca karya-karyanya. Wisran bagi Ikhwanul bukanlah orang asing yang berjarak. Oleh sebab itu, puisi yang ditulisnya secara spontan itu memiliki daya pikat yang kuat.
Bercermin dari puisi-puisi sebelumnya, puisi bagi penulis ini bukanlah soal bagaimana memilih diksi dan menata bait. Yang menentukan proses lahirnya puisi adalah kedekatan dan kesan kuat dalam hubungan dengan subjek yang diucapkan. “Puisi-puisi saya lahir tanpa direncanakan. Apalagi dipikirkan”, katanya suatu ketika saat kami berbincang di Pojok Steva. "Begitu dipikirkan, sajak saya biasanya jadi gagal”. Yang lama dan sulit itu bukanlah menulis puisi, tapi proses agar puisi itu bisa lahir. Dan hal demikian amat ditentukan bagaimana penulis memaknai problem yang ditulis dan memaknai profesinya.
Hulu Diri
Pada bagian akhir antologi ini, Ikhwanul terlihat mulai melakukan pencarian ke dalam diri. Ia kini banyak berbincang dengan kekasih yang dekat. Tentang perseteruan, pertengkaran dan kehidupan bersama. Kegelisahan membawanya pada pencarian terhadap diri sendiri, pencasrian ke hulu diri. Dalam perjalanan demikian, ia menulis banyak puisi-puisi pendek dengan diksi sederhana. Akan tetapi, justru pada kesederhanaan yang lugu dan jujur itulah bersemayam kekuatan puisi demikian. Saya kutip sebuah sajak dengan peristiwa simbolik berikuti ini. /Menangis di sungai/ Air mataku hanyut jadi laut/ Tuan berlayar di atasnya/ “ Simbiosis Parasitisma”
Yang bisa dilihat adalah bahwa penulisnya kini melakukan pencarian diri lebih dalam, Ia tak lagi terpesona pada hal di luar diri; wanita, peristiwa maupun panorama. Justru penyair sedang menuju ke dalam diri untuk membaca hakikatnya sebagai manusia. /Belum sayang/ Puisiku belum siap/ jemariku tengah sibuk / menjahit daging/ menganyam baju zirah/ “ Baju Zirah, Daging dan Puisi”. Begitu juga dalam puisi selanjutnya. /Belum sayang, belum/ Puisi belum siap/ Aku tengah mengupak kamus persembunyian/ Menggemur kata/ Kata yang tak lagi mesmakai baju zirah/ kata yang membusuk/ Dakam kuburan para penyar// “Mengayau Puisi”.
Hingga sajak terakhir, penyair belum lagi sampai pada titik ketenangan diri. Oleh sebab itu, puisi Ikhwanul Arif belum akan berakhir. Pencarian diri dan pengolahan puisi yang sesungguhnya justru baru saja dimulai. Karena itu, mari kita tunggu, apakah pencarian ini akan melahirkan puisi baru ataukah akan berakhir sebagai kebisuan.
[1] Wawancara di Kafe Pojok Steva, Jalan Pagang, Siteba Padang, 22 Oktober 2024, jam 22.00 WIB.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

9 hours ago
8

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543643/original/041077600_1775031375-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_14.33.02__1_.jpeg)














