Bikin Program Diet Pakai AI, Waspada Risiko Kurang Gizi Mengintai

2 hours ago 4

Membuat program diet menggunakan AI (ilustrasi). Studi baru memperingatkan bahwa rencana makan yang dihasilkan Al berpotensi menyebabkan kekurangan gizi hingga memicu gangguan makan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Remaja kini mulai beralih ke chatbot kecerdasan buatan (Al) untuk menyusun rencana diet mereka. Namun, sebuah studi baru memperingatkan bahwa rencana makan yang dihasilkan Al berpotensi menyebabkan kekurangan gizi hingga memicu gangguan makan.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Nutrition ini menemukan bahwa rencana makan yang dihasilkan Al cenderung meremehkan nutrisi dan asupan kalori yang dibutuhkan remaja untuk pertumbuhan yang sehat. Peneliti utama studi, Ayse Betul Bilen, dari Istanbul Atlas University menilai rencana diet Al sangat berbeda yang disusun oleh ahli gizi.

"Mengikuti rencana makan yang tidak seimbang atau terlalu ketat selama masa remaja dapat berdampak negatif pada pertumbuhan, kesehatan metabolisme, dan perilaku makan," kata Bilen seperti dilansir laman US News, Senin (16/3/2026).

Dalam penelitian ini, para peneliti meminta lima model Al online gratis yaitu ChatGPT 4, Gemini 2.5 Pro, Bing Chat-5GPT, Claude 4.1, dan Perplexity, untuk membuat rencana makan. Para peneliti memberikan data usia, tinggi badan, dan berat badan dari empat remaja hipotetis berusia 15 tahun yang terdiri atas dua remaja dengan kelebihan berat badan dan dua remaja dengan obesitas. Al kemudian diminta membuat rencana makan selama tiga hari, dengan tiga kali makan utama dan dua camilan setiap hari.

Sebagai pembanding, para peneliti juga meminta seorang ahli gizi yang berspesialisasi dalam kesehatan remaja untuk membuat rencana makan menggunakan pedoman yang sama. Hasilnya menunjukkan bahwa model Al memperkirakan kebutuhan energi remaja hampir 700 kalori lebih rendah daripada yang diperkirakan oleh ahli gizi. Jumlah tersebut setara dengan melewatkan satu kali makan penuh setiap hari.

Selain ítu, rencana makan yang dihasilkan Al juga menunjukkan ketidakseimbangan dalam komposisi makronutrien. Al cenderung menghitung terlalu tinggi jumlah protein dan lemak, serta menghitung terlalu rendah kebutuhan karbohidrat.

Read Entire Article
Food |