Dari Kota Sungai ke Kota Beton: Apa yang Tersisa dari Samarinda?

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sungai Mahakam tak pernah benar-benar tidur, tetapi wajah yang terpantul di permukaannya terus berubah seiring waktu. Dahulu, sebelum jembatan panjang menghubungkan Samarinda Kota dan Samarinda Seberang, sungai nan lebar itu adalah nadi utama kehidupan, membelah sekaligus menyatukan ruang sosial warga.

Lebih dari setengah abad lalu, Samarinda, Kalimantan Timur, masih berupa permukiman dengan denyut hidup berbasis sungai. Suara mesin klotok bersahut-sahutan dengan deru jeep willys yang merayap pelan di ruas jalan, menciptakan orkestrasi khas kota tepian air yang sedang tumbuh.

Kini, bayangan itu perlahan tergantikan. Ponton-ponton batu bara berjejer di sungai, hotel-hotel bertingkat menjulang, dan cahaya kota memantul di malam hari, menandai peran Samarinda sebagai penyangga penting Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di tengah modernisasi yang nyaris menenggelamkan memori kolektif warganya, Syafruddin Pernyata hadir membawa sekoci ingatan. Melalui bukunya Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu, ia mengajak pembaca menekan tombol jeda sejenak, menepi dari hiruk-pikuk kota yang kian metropolis untuk menoleh ke belakang. Bukan semata nostalgia, melainkan upaya memahami jati diri.

Buku yang berangkat dari kepingan cerita di grup maya History of Samarinda (HoS) ini bukan sekadar kumpulan status media sosial yang dibukukan. Ia menjelma dokumentasi sosial yang merekam denyut kehidupan sebuah kota yang lahir dan tumbuh dari tepian sungai.

Syafruddin menyoroti transformasi ekonomi sebagai tulang punggung perubahan wajah Samarinda. Kota ini tidak tumbuh secara organik semata, melainkan dipacu oleh eksploitasi sumber daya alam yang masif dan berlapis.

Penulis menggunakan metafora emas hijau untuk masa kejayaan kayu dan emas hitam untuk era batu bara, dua fase ekonomi yang membentuk arah dan watak kota.

“Bab-bab buku ini seolah menjadi peta waktu bagi transisi tersebut,” tulisnya.

Ada bab khusus yang mengulas kisah di balik pabrik-pabrik tripleks Samarinda. Bagi generasi milenial atau Gen Z hari ini, mungkin sulit membayangkan kota mereka pernah menjadi pusat industri kayu lapis yang jaya, sebelum satu per satu pabrik gulung tikar, menyisakan lahan kosong atau bangunan yang berganti fungsi.

Narasi ini menjadi penting karena memberi konteks pada data demografi yang disajikan penulis: lonjakan penduduk dari 609.380 jiwa pada 2009 menjadi 834.824 jiwa pada 2023.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |