REPUBLIKA.CO.ID, KOPENHAGEN -- Washington diduga secara diam-diam berupaya menghimpun informasi soal instalasi, pelabuhan, dan pangkalan udara militer di Greenland. Demikian dilaporkan Anadolu, mengutip pemberitaan dari salah satu kanal media nasional Denmark, Berlingske, pada Ahad (18/1/2026).
Menurut berkas-berkas Kementerian Pertahanan Denmark yang disaksikan Berlingske, para pejabat khawatir dengan langkah Amerika Serikat (AS). Pada tahun lalu, Washington dilaporkan berupaya mendapatkan informasi terkait instalasi, pelabuhan dan pangkalan udara militer di Greenland dari pihak Denmark. Namun, hal itu dilakukan secara "tidak formal" dan "tanpa sepengetahuan" Kopenhagen.
Lantaran "posisi strategis" Greenland, kementerian tersebut segera diberitahu akan langkah AS itu.
Greenland merupakan koloni Denmark hingga 1953 dan tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark meski telah memperoleh otonomi pada 2009. Di antara bentuk otonom itu ialah, Greenland dibolehkan untuk menentukan kebijakan domestiknya sendiri.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyatakan, Greenland "harus" menjadi bagian dari AS. Dalihnya, pulau terluas di dunia itu bernilai strategis bagi keamanan nasional AS. Alasan lainnya, Washington menduga adanya peningkatan kehadiran pihak Rusia dan China di kawasan tersebut.
Adapun Pemerintah Denmark dan Greenland berulang kali menolak usulan menjual wilayah pulau tersebut ke AS. Kopenhagen menegaskan kembali kedaulatan Denmark atas pulau seluas 2.175.600 km persegi itu.
Diancam dengan tarif
Sejak Jumat (16/1/2026), Trump telah mengumbar ancaman bahwa Washington akan memberlakukan tarif impor tambahan kepada negara-negara yang tidak mendukung upaya AS mencaplok Greenland. "Saya mungkin akan mengenakan tarif terhadap negara-negara lain jika mereka tidak mendukung soal Greenland," kata Presiden AS, dikutip Kyodo.
Sikap Trump yang bersikukuh ingin menguasai Greenland, wilayah otonomi Denmark yang strategis dan kaya sumber daya alam, telah memicu penolakan keras dari para pemimpin Eropa. Bahkan, Presiden Emmanuel Macron langsung mengirimkan militer ke Greenland sebagai respons pernyataan Trump.
Menteri Luar Negeri Belanda David van Weel pada Ahad mengatakan ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif pada beberapa negara Eropa terkait Greenland sebagai pemerasan. Sekutu tidak memperlakukan itu kepada rekannya.
"Sekutu tidak memperlakukan satu sama lain seperti ini... Apa yang terjadi adalah pemerasan. Dan itu tidak perlu, karena tidak membantu memperkuat aliansi. Itu juga tidak berkontribusi pada keamanan Greenland," kata van Weel kepada stasiun televisi NPO 1.
sumber : Antara

3 hours ago
2











































