Perang Iran dan Kebutuhan Mitigasi Energi Indonesia

3 hours ago 2

Oleh : Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gangguan pada Selat Hormuz membuat dunia menghadapi krisis energi global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, atau sekitar 18–20 juta barel per hari, melewati selat sempit ini. Hal ini menjadikan Selat Hormuz sebagai chokepoint energi paling penting dalam sistem ekonomi global (EIA, 2025). Dalam sistem energi yang sangat terintegrasi seperti saat ini, gangguan pada satu titik sempit di Teluk Persia dapat segera mengguncang harga energi, inflasi, dan stabilitas ekonomi di seluruh dunia.

Perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran harus dipahami dalam konteks risiko tersebut. Secara strategis, konflik ini dapat berkembang ke dalam tiga skenario eskalasi: limited war, regional war, dan global war. Literatur akademik tentang keamanan internasional menunjukkan bahwa perang sering berkembang secara bertahap melalui proses eskalasi, terutama ketika aktor baru ikut terseret atau ketika tujuan militer berkembang melampaui target.

Skenario pertama, limited war, adalah konflik terbatas seperti yang terlihat saat ini. Perang hanya melibatkan Iran dan jaringan proksi-proksinya di satu sisi serta AS dan Israel di sisi lain. Operasi militer dalam skenario ini didominasi oleh serangan udara presisi, penggunaan drone, serta peluncuran rudal balistik. Hal ini mengingat secara geografis, kecuali antara Israel dan Hizbullah, salah satu proksi utama Iran, tidak berbatasan darat secara langsung.

Iran memiliki salah satu arsenal rudal terbesar di Timur Tengah. IISS (2025) memperkirakan mereka memiliki 2.000 hingga 3.000 rudal balistik sebelum konflik bulan Juni 2025. Dalam Perang 2025, Iran dilaporkan meluncurkan lebih dari 600 rudal balistik dan drone dalam beberapa gelombang serangan (IISS, 2025). Dengan intensitas penggunaan seperti itu, kapasitas Iran untuk mempertahankan serangan berskala besar dalam jangka panjang relatif terbatas. Karena itu, limited war kemungkinan hanya berlangsung dalam hitungan minggu.

Skenario kedua adalah regional war. Skenario ini muncul manakala konflik berkembang dengan negara-negara Teluk ikut terlibat di dalamnya. Hubungan Iran dengan negara-negara Teluk memang membaik dalam beberapa tahun terakhir, tetapi tetap diliputi rivalitas strategis yang kuat. Serangan terhadap instalasi energi di negara-negara Teluk dapat mempercepat perluasan perang. Saat ini Iran sendiri sudah melancarkan serangan ke negara-negara tetangganya meski berdalih menyasar pangkalan militer AS di negara-negara tersebut. Hanya saja, beberapa negara Teluk sudah menyampaikan keberatan karena beberapa serangan tersebut menyasar instalasi sipil yang bukan merupakan kepentingan AS di sana.

Dalam skenario ini, risiko ekonomi global meningkat secara dramatis. Jalur energi utama dari kawasan Teluk menjadi rentan terhadap gangguan militer. Jika konflik meningkat ke tingkat ini, pasar energi global akan mengalami goncangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan fluktuasi harga jangka pendek yang terjadi dalam konflik terbatas.

Skenario ketiga adalah global war yang terjadi ketika kekuatan-kekuatan besar ikut terseret. Beberapa indikasi awal sudah mulai terlihat melalui peningkatan kehadiran militer negara-negara Eropa di Timur Tengah, termasuk Inggris dan Perancis. Eskalasi lebih jauh dapat terjadi jika Rusia atau Cina memutuskan untuk terlibat secara langsung, meskipun sejauh ini kedua negara tersebut masih menahan diri.

Faktor yang paling menentukan eskalasi adalah deployment pasukan darat ke Iran. Jika AS dan Israel memutuskan melakukan operasi darat, konflik hampir pasti berubah menjadi perang asimetris yang berkepanjangan. Literatur tentang perang asimetris menunjukkan bahwa intervensi militer langsung terhadap negara dengan kapasitas mobilisasi milisi yang luas sering menghasilkan konflik yang berlangsung lama dan mahal secara politik maupun ekonomi (Arreguín-Toft, 2005).

Di luar dinamika militer tersebut, konflik ini memiliki arti strategis yang jauh lebih besar karena terjadi di sekitar dua chokepoint utama dalam sistem ekonomi global: Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Selat Hormuz adalah jalur utama ekspor energi dari kawasan Teluk. Hampir semua ekspor energi dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA), Oman, dan Bahrain menuju pasar global, terutama Asia, bergantung pada stabilitas selat ini. Karena itu, Selat Hormuz sering disebut sebagai the world’s most important oil chokepoint.

Sementara itu, Selat Bab el-Mandeb memiliki arti yang berbeda tetapi tidak kalah penting. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia dan menjadi pintu masuk menuju Terusan Suez. Jalur ini merupakan salah satu arteri utama perdagangan global yang menghubungkan Asia dengan Eropa. 

Gangguan di kawasan ini dapat memaksa kapal-kapal internasional memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Telaah IMF (2025) tentang Krisis Laut Merah yang berlangsung pasca serangan 7 Oktober 2023, menunjukkan bahwa kapal-kapal harus menambah waktu pelayaran hingga dua minggu dan meningkatkan biaya logistik global secara signifikan.

Dalam konflik yang melibatkan Iran, kedua chokepoint ini dapat terganggu secara bersamaan. Hormuz rentan terhadap eskalasi militer langsung antara Iran dan negara-negara Teluk, sementara Bab el-Mandeb rentan terhadap aktivitas proksi Iran, terutama kelompok Houthi di Yaman.

Bagi Indonesia, implikasi dari skenario ini cukup serius. Indonesia merupakan net importer minyak dan sangat bergantung pada stabilitas pasar energi global. Produksi minyak domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari, jauh di bawah kebutuhan nasional (SKK Migas, 2025). 

Kerentanan ini semakin terlihat dari kapasitas cadangan energi nasional. Cadangan bahan bakar nasional hanya cukup untuk sekitar tiga minggu konsumsi karena keterbatasan fasilitas penyimpanan domestik. Artinya, jika konflik regional mengganggu pasokan minyak global selama beberapa minggu saja, Indonesia akan langsung merasakan dampaknya dalam bentuk lonjakan harga energi, tekanan inflasi, serta meningkatnya beban fiskal akibat subsidi energi.

Di sinilah persoalan strategis yang lebih besar muncul. Selama ini, diskusi mengenai energi di Indonesia sering berfokus pada stabilitas harga dan pasokan jangka pendek. Namun, konflik Iran menunjukkan bahwa ketahanan energi juga merupakan isu geopolitik. Indonesia membutuhkan strategi mitigasi yang jauh lebih serius. 

Salah satunya adalah pembangunan cadangan minyak strategis nasional yang memadai agar negara memiliki buffer energi ketika terjadi gangguan global. Diversifikasi sumber impor energi juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan tertentu.

Namun mitigasi tidak dapat berhenti pada kebijakan pasokan semata. Krisis energi global berulang kali menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada bahan bakar fosil menciptakan kerentanan strategis yang besar. Karena itu, konflik seperti perang Iran seharusnya juga membuka ruang bagi perdebatan yang lebih luas mengenai masa depan kebijakan energi Indonesia. 

Transisi menuju energi listrik yang lebih luas, baik melalui pengembangan energi terbarukan maupun opsi energi nuklir, tidak lagi hanya merupakan agenda lingkungan, tetap juga merupakan bagian dari strategi keamanan energi nasional.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi ketidakpastian geopolitik, pertanyaan yang harus dijawab bukan lagi sekadar bagaimana Indonesia mendapatkan minyak yang cukup hari ini manakala ada insiden-insiden di chokepoints utama. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah bagaimana Indonesia mengurangi ketergantungan strategis terhadap minyak itu sendiri.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |