Tahapan Spiritual Puasa Ramadhan

3 hours ago 3

Oleh : Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

REPUBLIKA.CO.ID, Madrasah Ramadhan mempunyai tingkatan kelas yang menunjukkan kualitas peserta didik dalam mengikuti proses pendidikan. Hal ini menunjukkan tahapan spiritual seseorang dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan. Berkaitan tingkatan kelas, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' 'Ulumuddin membagi menjadi tiga tingkatan orang yang berpuasa. 

“Ketahuilah sesungguhnya puasa itu ada tiga tingkatan; puasa umum, puasa khusus, dan puasa sangat khusus.” (Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum ad-Din).

Pertama, puasa umum. Yaitu puasanya orang awam, yang hanya sebatas dengan menahan perut dari makan dan minum, serta menahan kemaluan dari keinginan syahwat. Dengan kata lain, puasa umum ini “sekadar” mengerjakan puasa menurut tata cara yang diatur dalam hukum fikih. Sementara, anggota badan lainnya tidak turut dijaga dari hal yang bisa membatalkan pahala puasa. 

Berpuasa secara lahiriyah, ketika seseorang makan sahur dan berniat untuk puasa pada hari itu, kemudian menahan diri dari makan, minum dan melakukan hubungan badan dengan suami atau istrinya sejak dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Jika hal itu telah dikerjakan, maka secara hukum fiqih ia telah mengerjakan kewajiban puasa Ramadhan. 

Kedua, puasa khusus. Yaitu orang yang berpuasa dengan menahan selain perut dan kemaluan, juga anggota badan lainnya seperti pendengaran, pandangan, lidah, tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari perbuatan maksiat. Tingkatan puasa khusus ini kedudukannya lebih tinggi dari tingkatan puasa umum atau puasa orang-orang awam. Tingkatan ini adalah tingkatan orang-orang saleh.

Tingkatan puasa khusus ini menuntut seorang Muslim untuk senantiasa berhati-hati dan waspada. Ia akan menahan matanya dari melihat hal yang diharamkan, menahan telinganya dari mendengarkan hal yang diharamkan, menahan lisannya dari mengucapkan hal yang diharamkan, menahan tangan dari melakukan hal yang diharamkan, menahan kaki dari melangkah menuju hal yang diharamkan, dan menahan seluruh anggota badan lainnya dari hal yang diharamkan. 

Ketiga, puasa khusushul khushus. Yaitu, selain melakukan semua yang disebutkan dalam puasa umum dan khusus, ditambah dengan menahan hati dari memikirkan kesenangan duniawi, dan hanya fokus pada ibadah kepada Allah. Puasanya hati dan pikiran, itulah hakekat dari puasa sangat khusus. Puasanya hati dan pikiran dianggap batal ketika ia memikirkan hal-hal selain Allah, hari akhirat dan berfikir tentang keinginan duniawi, kecuali perkara dunia yang membantu urusan akhirat. Ini adalah puasa para nabi, shiddiqin dan muqarrabin.

Dari ketiga tingkatan orang yang berpuasa dalam madrasah Ramadhan, seorang muslim hendaknya berupaya menempati tingkatan puasa khusus. Ini tingkatan puasa orang saleh. Orang yang menempati tingkatan puasa khusus akan berusaha menjaga kesempurnaan dalam enam hal.

Pertama, menundukkan dan menahan padangan dari melihat perkara yang dapat melalaikan dari mengingat Allah SWT. Pandangan mata menjadi pintu pertama terjadinya kemaksiatan. Karenanya, pada tingkatan khusus ini seseorang harus mampu menjaga matanya.

“Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberikan balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya.” (HR. Hakim).

Begitu dahsyat pengaruh dari memandang lawan jenis yang bukan mahram. Rasulullah SAW bahkan mengatakan bahwa pandangan yang disengaja untuk kedua kalinya adalah musibah. Rasulullah SAW berkata kepada Ali RA,

“Wahai Ali, pandangan pertama janganlah diteruskan dengan pandangan selanjutnya. Karena pandangan pertama bagimu (nikmat), sedangkan pandangan kedua atasmu (musibah).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Kedua, menjaga lisan. Karena itu, orang yang berpuasa hendaknya menjaga diri dari dusta; ghibah; bergunjing; perkataan keji, pertengkaran, perdebatan; dan hal lain yang berkaitan tentang pengendalian lisan dari keburukan. 

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim).

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |