Episentrum Baru Kemandirian Ekonomi PERSIS di Abad Kedua

2 hours ago 2

Oleh : Aay Mohamad Furkon, Ketua Bidang Maliyah PP PERSIS dan Dosen STAI PERSIS Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memasuki abad keduanya, Persatuan Islam (PERSIS) tengah menulis ulang narasi pergerakannya. Publik selama ini mengidentikkan jamiyyah ini dengan gerakan purifikasi akidah dan tajdid di bidang pendidikan—sebuah pendekatan yang sangat kuat pada dakwah motivasional dan penanaman nilai moral. Namun, di balik rekam jejak tersebut, tersimpan sebuah realitas historis yang sering kali luput dari diskursus utama: bahwa fondasi paling awal dari kemandirian pergerakan ini justru lahir dari rahim kekuatan ekonomi.

Transformasi struktural yang kini tengah digaungkan bukanlah sebuah entitas yang tiba-tiba muncul, melainkan sebuah ikhtiar "kembali ke akar". Jejak masa lalu mencatat dengan sangat jernih bahwa para tokoh pendiri PERSIS, seperti KH Zam Zam dan M Yunus, adalah para saudagar tangguh yang menavigasi iklim perniagaan yang kompetitif di Bandung. Spirit otonomi finansial ini pula yang membesarkan nama A Hassan. Beliau membuktikan bahwa kemandirian ekonomi—lewat inovasi menerbitkan dan mendistribusikan karya literasinya sendiri—merupakan pilar utama yang menyokong keberanian, ketajaman, dan kelugasan gagasan dakwahnya.

Ujian Ketahanan dan Pionir Keuangan Syariah

DNA wirausaha tersebut terbukti memiliki daya resiliensi yang melampaui zamannya. Ketika wacana literasi ekonomi Islam modern belum sepenuhnya menjadi arus utama di Tanah Air pada dekade 1990-an, tokoh-tokoh PERSIS di bawah komando K.H. Latif Mukhtar (Allahuyarham) mengambil inisiatif avant-garde. Lahirlah Amanah Rabbaniyyah, sebuah prototipe lembaga keuangan syariah yang berdiri bahkan sebelum institusi perbankan syariah nasional diresmikan.

Menariknya, sejarah kemudian menguji ketahanan institusi-institusi serupa melalui berbagai gelombang krisis. Saat banyak lembaga keuangan umat berguguran karena gagal beradaptasi, Amanah Rabbaniyyah tetap tegak berdiri. Fakta ini menegaskan sebuah tesis penting: gerakan ekonomi yang ditopang oleh fondasi ideologi yang kokoh dan tata kelola yang amanah akan melahirkan ketahanan sistemik yang luar biasa.

"Dakwah Aksi" dan Relevansi Masyarakat Urban

Kesadaran akan kekuatan sejarah inilah yang kini dikristalisasi oleh kepemimpinan Pimpinan Pusat PERSIS di bawah K.H. Jeje Zaenudin. Melalui momentum PERSIS Ramadhan EXPO 2026, sebuah reorientasi strategis ditegaskan secara lugas: gerakan umat harus bertransformasi dari sekadar "dakwah motivasi" menuju "dakwah aksi".

Di tengah himpitan realitas sosial-ekonomi yang semakin kompleks, dakwah tidak lagi cukup hanya bergema di ruang-ruang mimbar. Wejangan moral memerlukan manifestasi konkret yang menyentuh urat nadi kebutuhan masyarakat. EXPO ini dirancang sebagai jawaban taktis atas tuntutan tersebut, menghadirkan ruang agregasi bagi ekonomi kreatif tanpa harus mereduksi nilai-nilai syariat.

Lebih jauh, gelaran ini menawarkan terobosan melalui konsep "Dakwah Perkotaan". Masyarakat urban yang terus berpacu dengan ritme persaingan hidup yang keras membutuhkan oase yang menyejukkan sekaligus memberdayakan. Pameran UMKM yang menggerakkan sektor riil, bursa produk halal, hingga diskursus publik bersama para mubaligh kenamaan yang tersaji di EXPO, menjadi wujud nyata dari ekosistem dakwah yang adaptif dan inklusif.

Meruntuhkan Sekat, Membangun Orkestrasi Umat

Dampak paling fundamental dari pergeseran paradigma ini justru terjadi pada tataran sosiologis masyarakat PERSIS itu sendiri. Selama bertahun-tahun, mungkin terdapat semacam sekat "inferioritas" kultural yang membuat sebagian diaspora PERSIS enggan tampil mengibarkan identitasnya di ranah publik. Namun, pengelolaan EXPO 2026 yang dikemas secara profesional dan masif berhasil meruntuhkan dinding psikologis tersebut.

Acara ini secara brilian menjelma menjadi titik temu—sebuah magnet rekonsiliasi bagi para pengusaha sukses, saudagar tangguh, hingga kaum profesional yang memiliki memori dan ikatan emosional dengan PERSIS. Mereka kini melangkah ke gelanggang utama dengan kepala tegak, bangga mengakui identitas kulturalnya, dan siap mengorkestrasikan kembali kekuatan jaringan ekonomi umat.

Pada akhirnya, transformasi menuju dakwah aksi ini adalah proklamasi bahwa PERSIS siap menjadi motor penggerak peradaban. Sebuah bukti sahih bahwa ajaran Islam, ketika diterjemahkan menjadi solusi ekonomi yang konkret, akan selalu menjadi kekuatan progresif yang menyejahterakan dan relevan untuk menjawab tantangan zaman.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |