Hotspot Kalbar Turun, Menhut: Tidak Berarti Aman dari Asap

3 hours ago 11

Presiden Prabowo Subianto (tengah) bersama Mensesneg Prasetyo Hadi (kanan) dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kiri) meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kawasan Kubu Raya, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyebut titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) turun menjadi 28 titik. Namun, Raja Juli mengakui asap masih terlihat banyak.

"Untuk wilayah Kalbar ada 28 hotspot. Yang terbanyak itu di Ketapang 16, kemudian di Melawi 11, dan satu ada di Kubu Raya," kata Menhut saat meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Rasau Jaya Satu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Senin (24/8/2026).

Dalam peninjauan tersebut, Raja Juli Antoni didampingi Gubernur Kalbar Ria Norsan, jajaran TNI dan Polri, BMKG, BNPB, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, serta masyarakat peduli api.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) per 23 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB, tercatat 28 hotspot di Kalbar. Sebanyak 16 hotspot berada di Kabupaten Ketapang, 11 titik di Kabupaten Melawi, dan satu titik di Kabupaten Kubu Raya.

Menurut dia, penurunan hotspot belum dapat dijadikan indikator bahwa ancaman karhutla dan asap telah berakhir. Saat peninjauan, api di permukaan tidak terlihat, tetapi asap masih muncul.

Raja Juli Antoni menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan karakteristik lahan gambut yang memungkinkan proses pembakaran berlangsung tidak sempurna dan menghasilkan asap lebih banyak dibandingkan lahan mineral.

“Tidak adanya hotspot tidak berarti aman dari asap. Karena ini memang daerah gambut. Pembakaran tidak sempurna, sehingga asapnya lebih banyak ketimbang di tanah mineral,” ujarnya.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |