Meneladani Kepemimpinan Nabi: Mewujudkan Maslahah untuk Bangsa dan Negara

3 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rahmat Hidayati, Dosen FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pengasuh Ponpes Madinatur Rahmah Tenjo-Bogor 

Setiap tahun, umat Islam memperingati kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 1448 H ini, peringatan Maulid Nabi menjadi momen yang sangat istimewa untuk merenungi dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang dibawa Baginda Rasulullah. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang sarat dengan tantangan, momentum ini seharusnya menjadi lebih dari sekadar seremonial keagamaan. Ia adalah panggilan untuk menginternalisasi keteladanan kepemimpinan Nabi sebagai solusi dan jalan keluar bagi berbagai problematika bangsa, demi mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Allah SWT telah menegaskan kedudukan Nabi sebagai teladan agung dalam firman-Nya: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." (QS. Al-Ahzab: 21). Ayat ini menjadi fondasi utama bagi kita untuk senantiasa menjadikan pribadi dan kepemimpinan beliau sebagai kompas moral dalam setiap sendi kehidupan, termasuk dalam mengelola dan memimpin bangsa. 

Kepemimpinan Berbasis Akhlak dan Moral

Salah satu pilar utama kepemimpinan Nabi adalah akhlakul karimah. Beliau diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia (Bu’istu liutammima makarimal akhlaq). Akhlakul karimah ini menjadi fondasi penting bagi seorang pemimpin, dan akan tercermin dalam setiap kebijakan dan tindakannya yang akan mengedepankan kejujuran (shiddiq), dapat dipercaya (amanah), cerdas dan visioner (fathanah), serta mampu menyampaikan kebenaran dan komunikatif (tabligh). Sejarah membuktikan Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat amanah. Bahkan sebelum diangkat menjadi rasul dijuluki Al-Amin (yang terpercaya) oleh masyarakat Quraisy. 

Al-Amin ini bukan sekadar gelar, melainkan cerminan dari integritas pribadi beliau dalam setiap aspek kehidupan. Seorang pemimpin bangsa saat ini wajib memiliki integritas serupa. 

Kepercayaan rakyat adalah modal utama kepemimpinan. Tanpa kejujuran dan rasa tanggung jawab yang besar, seorang pemimpin akan kehilangan legitimasi dan sulit untuk membawa bangsanya ke arah yang lebih baik. Kepemimpinan Nabi juga sarat dengan moralitas dan kebijakan. 

Dalam kaidah fikih siyasah dikatakan: "tasharruf al-imam 'ala al-ra'iyyah manuthun bi al-mashlahah" (tindakan pemimpin atas rakyat terikat oleh kemaslahatan umum) adalah prinsip fundamental yang dicontohkan oleh Rasulullah. Hal ini berarti  setiap keputusan dan kebijakan seorang pemimpin harus semata-mata bertujuan untuk kebaikan dan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau golongan. 

Allah SWT menggambarkan sifat kepemimpinan Nabi dalam QS. At-Tauah [9]: 128: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” 

Dalam ayat di atas ada 3 moral dalam kepemimpinan Nabi, yaitu sangat merasakan (peka) terhadap penderitaan umat/rakyat (azizun alaihi ma anittum/sense of crisis), sangat menginginkan keimanan atau menjadi orang baik (harishun 'alaikum /sense of goodness), dan belas kasihan serta penyayang (raufun rahim/sense of mercy and love). Seorang pemimpin modern yang ideal harus memiliki kepekaan terhadap penderitaan rakyatnya, semangat untuk memajukan kesejahteraan, dan hati yang penuh kasih sayang. 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |