REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin pagi bergerak naik tipis 9,08 poin atau 0,10 persen ke level 9.084,48. Sepanjang perdagangan, indeks sempat bergerak di kisaran 9.025 hingga 9.109 sebelum kembali menguat.
Berdasarkan data perdagangan, volume transaksi mencapai 25,84 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 11,57 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,73 juta kali. Jumlah saham yang naik dan turun relatif seimbang, masing-masing 340 saham, sementara 120 saham stagnan.
Bagi investor ritel, bertahannya IHSG di atas level 9.000 dinilai penting karena menjadi batas psikologis pasar. Level ini menunjukkan tekanan jual belum cukup kuat untuk mendorong indeks turun lebih dalam, sekaligus memberi ruang bagi pelaku pasar ritel untuk tetap aktif bertransaksi.
Masuknya dana asing turut menjadi penopang pasar. Sepanjang sepekan terakhir, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 3,2 triliun seiring penguatan IHSG sebesar 1,55 persen ke level 9.075 pada penutupan pekan lalu.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai derasnya dana asing mencerminkan kepercayaan terhadap kondisi domestik, meski sentimen global masih dipenuhi ketidakpastian. “Namun, sentimen pasar global terganggu oleh eskalasi risiko perdagangan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap barang-barang dari sejumlah negara Eropa, dengan ancaman kenaikan hingga 25 persen mulai Juni dan terkait sengketa Greenland,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip Senin (19/1/2026).
Ia menambahkan ketidakpastian kebijakan tersebut masih membayangi pasar global. “Hingga akhir pekan, dasar hukum dan mekanisme penerapan tarif tersebut masih belum jelas, menjaga ketidakpastian di pasar global,” katanya.
Di dalam negeri, konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama. Penjualan ritel Indonesia pada November 2025 tumbuh 6,3 persen secara tahunan dan menjadi yang tercepat sejak Maret 2024. Kondisi ini memberi sentimen positif bagi saham-saham berbasis konsumsi yang banyak dimiliki investor ritel.
Dengan IHSG yang masih bertahan di atas level 9.000 dan aliran dana asing yang belum keluar dari pasar, pelaku pasar ritel dinilai masih memiliki ruang untuk mencermati peluang. Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai sentimen global yang berpotensi memicu volatilitas jangka pendek.

2 hours ago
1











































