Muhammad Akmansyah
Agama | 2026-09-17 08:50:42
Muhammad Akmansyah, Dosen Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung
Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, hampir setiap orang pernah merasakan lelah. Ada yang lelah mencari nafkah, mengejar pendidikan, membangun keluarga, atau berjuang meraih cita-cita. Tidak sedikit pula yang memikul beban persoalan hidup hingga merasa kehilangan tenaga dan semangat. Dalam kondisi seperti itu, muncul pertanyaan, apakah merasa lelah merupakan tanda lemahnya iman?
Islam justru mengajarkan bahwa lelah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Yang dilarang bukanlah rasa lelah, melainkan ketika kelelahan itu berubah menjadi putus asa terhadap rahmat Allah. Inilah perbedaan yang perlu dipahami oleh setiap muslim. Lelah adalah fitrah manusia, sedangkan putus asa merupakan sikap yang harus dijauhi.
Lelah adalah Sunnatullah dalam Kehidupan
Allah menciptakan manusia untuk menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa menghadapi kesulitan. Al-Qur'an menegaskan, "Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah" (QS. Al-Balad: 4). Ayat ini menunjukkan bahwa perjuangan merupakan bagian dari ketentuan Allah bagi setiap manusia.
Karena itu, kelelahan bukan sesuatu yang harus disesali. Justru melalui perjuangan itulah seseorang memperoleh kemuliaan, kedewasaan, dan keberhasilan. Seorang pelajar harus bersungguh-sungguh untuk mendapatkan ilmu. Seorang pekerja harus berusaha keras demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Demikian pula seorang hamba harus berjuang melawan hawa nafsunya agar semakin dekat kepada Allah.
Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk menjadi pribadi yang kuat. Beliau mengajarkan agar setiap muslim mengejar hal-hal yang bermanfaat, memohon pertolongan kepada Allah, dan tidak mudah menyerah. Kekuatan yang dimaksud bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga keteguhan hati, semangat berusaha, dan kemampuan menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Lebih dari itu, Islam memberikan kabar gembira bahwa setiap rasa letih yang dialami seorang mukmin tidak akan sia-sia. Kesulitan, kesedihan, bahkan gangguan sekecil apa pun akan menjadi sebab bertambahnya pahala apabila dihadapi dengan kesabaran. Dengan demikian, lelah yang diiringi niat yang benar dapat bernilai ibadah di sisi Allah.
Putus Asa Adalah Penyakit Hati
Berbeda dengan rasa lelah, putus asa merupakan sikap yang sangat berbahaya. Ketika seseorang kehilangan harapan kepada Allah, ia mulai melihat hidupnya tanpa cahaya. Semua jalan tampak tertutup dan setiap usaha terasa sia-sia.
Al-Qur'an mengingatkan agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Nabi Ya'qub AS bahkan menasihati anak-anaknya agar tidak kehilangan harapan terhadap pertolongan Allah. Al-Qur'an menegaskan bahwa orang yang berputus asa dari rahmat Allah adalah mereka yang tidak mengenal kebesaran dan kasih sayang-Nya.
Allah juga membuka pintu harapan seluas-luasnya bagi setiap hamba. Bahkan orang yang telah banyak melakukan kesalahan tetap diperintahkan untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Pesan ini menunjukkan bahwa sebesar apa pun persoalan yang dihadapi, harapan kepada Allah tidak boleh hilang.
Seorang mukmin boleh bersedih, boleh menangis, bahkan boleh merasa letih. Akan tetapi, ia tetap menjaga prasangka baik kepada Allah. Ia yakin bahwa setiap ujian memiliki hikmah dan setiap kesulitan akan berakhir dengan pertolongan Allah pada waktu yang paling tepat.
Teladan Para Nabi dalam Menghadapi Ujian
Al-Qur'an menghadirkan banyak kisah para nabi sebagai pelajaran bagi orang-orang beriman. Mereka semua merasakan beratnya ujian, tetapi tidak pernah kehilangan harapan kepada Allah.
Nabi Ya'qub AS menjadi contoh yang sangat jelas. Beliau kehilangan Nabi Yusuf AS selama bertahun-tahun hingga kesedihan itu membuat penglihatannya melemah. Meskipun demikian, beliau tidak pernah berhenti berharap kepada Allah. Kesabaran dan keyakinannya akhirnya berbuah kebahagiaan ketika Allah mempertemukan kembali keluarganya.
Demikian pula Nabi Ayyub AS. Beliau diuji dengan penyakit, kehilangan harta, dan beragam penderitaan. Namun, semua itu tidak membuatnya putus asa. Beliau tetap bersabar dan terus memohon kepada Allah hingga akhirnya memperoleh kesembuhan dan berbagai nikmat yang lebih besar.
Kisah Nabi Ibrahim AS juga mengajarkan hal yang sama. Ketika malaikat membawa kabar gembira tentang kelahiran seorang anak di usia yang sangat tua, ditegaskan bahwa orang yang beriman tidak layak berputus asa dari rahmat Tuhannya. Selama Allah berkehendak, tidak ada sesuatu yang mustahil terjadi.
Tetap Berusaha, Tetap Berharap
Hakikat kehidupan adalah ujian. Ada kalanya seseorang berada dalam kebahagiaan, dan pada waktu lain ia menghadapi kesulitan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa seluruh urusan orang beriman adalah kebaikan. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur. Ketika tertimpa musibah, ia bersabar. Kedua keadaan itu sama-sama mendatangkan kebaikan baginya.
Karena itu, jangan jadikan rasa lelah sebagai alasan untuk berhenti berjuang. Lelah adalah harga dari setiap ikhtiar yang dilakukan manusia. Sebaliknya, putus asa merupakan kekalahan yang sesungguhnya karena membuat seseorang berhenti berharap kepada Allah.
Seorang muslim hendaknya terus bekerja keras, memperbaiki diri, bersabar dalam menghadapi ujian, dan menjaga keyakinan bahwa rahmat Allah selalu lebih luas daripada setiap kesulitan yang dihadapinya. Sebab Allah telah menjanjikan bahwa bersama setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Janji inilah yang menjadi sumber kekuatan bagi setiap orang beriman untuk terus melangkah.
Maka, jadikanlah prinsip hidup ini sebagai pegangan: lelah boleh, tetapi putus asa jangan. Sebab selama hati tetap bergantung kepada Allah, selalu ada harapan, selalu ada jalan keluar, dan selalu ada pertolongan yang menanti.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
9














































