Jangan Salah Beli! Ini Bedanya Barang Mewah Investasi vs Cuma Tren

17 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat dinilai mulai melirik instrumen investasi alternatif dengan mengoleksi jam tangan premium, tas bermerek, hingga mobil klasik. Jika dulu identik sebagai simbol status sosial, kini sebagian barang mewah mulai diposisikan sebagai aset pelindung nilai (safe haven).

Hal ini tercermin dari dinamika pasar global. Berbagai laporan ekonomi memproyeksikan pasar preloved luxury internasional akan mencapai nilai 60,55 miliar dolar AS pada 2029. Tren ini didorong oleh meningkatnya minat masyarakat kelas atas dalam memanfaatkan tas hingga jam tangan mewah sebagai aset dengan likuiditas tinggi.

Pakar ekonomi sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Susilo Nur Aji Cokro Darsono, mengatakan tren ini menunjukkan semakin meningkatnya literasi masyarakat mengenai pentingnya diversifikasi investasi. "Dahulu investasi identik dengan saham, obligasi, emas, atau properti. Kini muncul minat yang semakin besar terhadap alternative assets seperti jam tangan mewah, tas premium, karya seni, hingga mobil klasik," kata dia dalam keterangan tertulis, pada akhir pekan lalu.

Meski demikian, Susilo mengingatkan tidak semua barang mewah dapat dikategorikan sebagai instrumen investasi. Dalam perspektif ekonomi, suatu aset baru dapat disebut sebagai investasi apabila mampu mempertahankan atau meningkatkan nilainya dalam jangka panjang.

Menurut Susilo, kenaikan nilai suatu barang pada dasarnya dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran. Ketika permintaan meningkat sementara jumlah barang terbatas, peluang terjadinya apresiasi harga akan semakin besar.

"Faktor utama yang memengaruhi adalah kelangkaan, reputasi merek, keaslian serta riwayat kepemilikan, likuiditas pasar sekunder, hingga nilai sejarah dan budaya," ujar Susilo.

Investor global saat ini tidak lagi hanya mempertimbangkan nama merek, tetapi juga memperhatikan tingkat kelangkaan dan nilai budayanya. Menurut Susilo, hal inilah yang membuat merek tertentu mampu mempertahankan nilainya dari waktu ke waktu. Sebagai contoh jenama Rolex, Patek Philippe, dan Hermes dinilai berhasil membangun keunggulan kompetitif.

"Rolex, Patek Philippe, dan Hermes berhasil menciptakan economic moat melalui kualitas tinggi, produksi yang terbatas, dan pasar sekunder yang kuat," kata dia.

Data WatchCharts menunjukkan indeks pasar jam tangan mewah meningkat sekitar 5,1 persen dalam satu tahun terakhir. Rolex mencatat kenaikan sekitar 4,6 persen, sedangkan Patek Philippe meningkat hingga 12,1 persen. Sementara itu, tas Hermes Birkin dan Kelly tetap menunjukkan daya tahan nilai dengan depresiasi yang sangat kecil, yakni sekitar 0,2 persen.

Read Entire Article
Food |