Kekerasan Anak Masih Jadi Fenomena Gunung Es, Guru PAUD Dinilai Berperan Penting dalam Pencegahan

7 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius yang belum tertangani sepenuhnya di Indonesia. Banyak kasus diduga tidak pernah dilaporkan sehingga jumlah korban yang tercatat belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Di tengah lemahnya ketahanan keluarga, guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dinilai memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mendeteksi sekaligus mencegah kekerasan terhadap anak.

Ahli kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, dr. Maya Trisiswati, mengatakan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sebanyak 2.063 anak menjadi korban kekerasan sepanjang 2025. Namun, menurut dia, angka tersebut diyakini hanya sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya terjadi.

"Data yang tercatat kemungkinan masih jauh di bawah jumlah kejadian yang sesungguhnya. Banyak kasus yang tidak dilaporkan sehingga menjadi fenomena gunung es," kata Maya, Rabu (8/7/2026).

Menurut Maya, tingginya mobilitas masyarakat perkotaan, khususnya di Jakarta, membuat banyak orang tua harus bekerja dengan ritme yang padat. Kondisi tersebut berdampak pada melemahnya fungsi keluarga sebagai ruang perlindungan pertama bagi anak.

Ia mengatakan temuan KPAI juga menunjukkan sebagian besar kasus kekerasan terhadap anak justru terjadi di lingkungan keluarga maupun pengasuhan alternatif.

"Ketahanan keluarga belum optimal, terutama dalam memberikan perlindungan kepada anak-anak usia dini. Padahal keluarga merupakan benteng pertama dalam mencegah kekerasan," ujarnya.

Maya menjelaskan anak usia dini menjadi kelompok paling rentan karena belum memiliki kemampuan melindungi diri dan masih bergantung sepenuhnya kepada orang dewasa. Kerentanan tersebut semakin besar ketika korban masih berusia tiga hingga lima tahun atau berada pada jenjang PAUD.

Dalam sejumlah kasus, kata dia, keluarga bahkan memilih menutupi peristiwa kekerasan demi menjaga nama baik sehingga penanganan terhadap korban menjadi terlambat.

Selain itu, rendahnya pemahaman orang tua mengenai kesehatan reproduksi juga dinilai menjadi tantangan dalam upaya pencegahan. Sementara anak-anak belum memiliki kemampuan mengenali ancaman terhadap organ reproduksinya sehingga lebih mudah menjadi sasaran pelaku.

Karena itu, Maya menilai guru PAUD memiliki posisi strategis untuk membangun kesadaran anak sekaligus menjadi mitra orang tua dalam upaya perlindungan.

"Pencegahan kekerasan terhadap anak tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Dibutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, hingga media agar tercipta lingkungan yang aman bagi anak," katanya.

Sebagai bagian dari penguatan kapasitas guru, Universitas YARSI melalui Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (Satgatra/PPKS) menyelenggarakan pelatihan pencegahan kekerasan terhadap anak usia dini selama dua hari di Kelurahan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur.

Pelatihan tersebut membahas berbagai bentuk kekerasan terhadap anak, langkah pencegahan, serta penanganan awal apabila ditemukan dugaan kasus. Berdasarkan hasil evaluasi, nilai rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 56 menjadi 70.

Program itu juga melibatkan orang tua murid dalam tahap evaluasi untuk mengetahui sejauh mana materi yang diterima anak di sekolah dapat diterapkan di lingkungan keluarga. Guru turut diminta mendokumentasikan berbagai tantangan yang dihadapi saat menyampaikan materi kepada peserta didik.

Maya menilai upaya pencegahan hanya dapat berjalan efektif apabila seluruh pemangku kepentingan memiliki komitmen yang sama dalam melindungi anak.

"Kolaborasi yang baik antara masyarakat, akademisi, dan pemerintah merupakan fondasi yang kuat untuk menciptakan ruang aman bagi anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal serta terlindungi dari kekerasan," ujarnya.

Ia menegaskan seluruh bentuk kekerasan terhadap anak tidak dapat ditoleransi.

"Zero tolerance terhadap kekerasan pada anak, apa pun alasannya, kapan pun, dan di mana pun," kata Maya.

Read Entire Article
Food |